| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ رَحِمَهُ اللهُ: كُنْتُ عِنْدَ مَالِكٍ أَقْرَأُ عَلَيْهِ الْعِلْمَ. | Ibnu Abdil Hakam—semoga Allah merahmati beliau—bercerita bahwa dahulu beliau sedang berada di sisi Imam Malik untuk menimba ilmu. |
| فَدَخَلَ الظُّهْرُ فَجَمَعْتُ الْكُتُبَ لِأُصَلِّيَ. | Lalu waktu salat Zuhur tiba, maka kita segera merapikan buku-buku untuk bersiap melaksanakan salat. |
| فَقَالَ: يَا هَذَا، مَا الَّذِي قُمْتَ إِلَيْهِ بِأَفْضَلَ مِمَّا كُنْتَ فِيهِ إِذَا صَحَّتِ النِّيَّةُ؟ | Kemudian Imam Malik berkata: “Wahai anak muda, tidak ada amalan yang lebih utama untuk engkau lakukan selain apa yang sedang engkau kerjakan sekarang (menuntut ilmu), asalkan niatnya sudah benar.” |
Kisah yang disampaikan oleh Ibnu Abdil Hakam ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam bagi kita semua mengenai hakikat niat dalam beribadah. Seringkali kita merasa bahwa ibadah ritual seperti salat adalah satu-satunya cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, sementara aktivitas belajar atau bekerja dianggap sebagai urusan duniawi semata. Namun, melalui nasihat Imam Malik ini, kita diajak untuk melihat bahwa aktivitas menuntut ilmu pun memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi di sisi Allah.
Inti dari nasihat Imam Malik terletak pada kalimat “asalkan niatnya sudah benar”. Hal ini menunjukkan bahwa nilai sebuah perbuatan sangat bergantung pada apa yang ada di dalam hati kita. Jika kita menuntut ilmu dengan niat untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri, menjalankan perintah Allah, dan memberi manfaat bagi umat, maka setiap detik yang kita habiskan untuk membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru akan bernilai pahala yang setara, bahkan bisa lebih utama, daripada ibadah sunnah lainnya.
Dalam konteks ini, Imam Malik ingin mengingatkan bahwa saat kita sedang dalam majelis ilmu, kita sebenarnya sedang berada dalam kondisi ibadah yang sangat mulia. Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga. Oleh karena itu, jika niat kita sudah lurus hanya karena Allah, maka aktivitas belajar tersebut tidak perlu dianggap sebagai gangguan terhadap ibadah salat, melainkan bagian dari rangkaian pengabdian kita kepada Sang Pencipta.
Kita perlu memahami bahwa Islam tidak memisahkan secara kaku antara urusan duniawi dan ukhrawi jika keduanya didasari oleh niat yang tulus. Ketika kita belajar dengan niat ibadah, maka lelahnya kita dalam menghafal atau memahami kitab akan menjadi penggugur dosa. Inilah yang disebut dengan transformasi amal, di mana aktivitas yang sifatnya kognitif atau intelektual berubah menjadi amalan yang bersifat ukhrawi karena faktor niat tersebut.
Sebagai penutup, mari kita senantiasa memperbaiki niat dalam setiap langkah kita. Jangan sampai kita merasa bahwa kita baru benar-benar beribadah ketika kita sudah duduk di atas sajadah. Sebaliknya, mari kita bawa semangat ibadah itu ke dalam meja belajar, ke dalam kantor, dan ke dalam setiap aktivitas harian kita. Dengan begitu, seluruh hidup kita akan menjadi rangkaian ibadah yang tidak terputus di hadapan Allah SWT.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/9#p1