| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: لَأَنْ أَتَعَلَّمَ مَسْأَلَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ. | Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh, mempelajari satu masalah ilmu itu lebih kita cintai daripada melakukan salat malam (tahajud) semalam suntuk.” |
| وَقَالَ أَيْضًا: كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا، وَلَا تَكُنِ الرَّابِعَ فَتَهْلِكَ. | Beliau juga berkata: “Jadilah orang yang berilmu, atau orang yang sedang belajar, atau orang yang menyimak ilmu, dan janganlah menjadi orang keempat (yang tidak peduli ilmu), karena kita bisa binasa.” |
| وَقَالَ عَطَاءٌ: مَجْلِسُ عِلْمٍ يُكَفِّرُ سَبْعِينَ مَجْلِسًا مِنْ مَجَالِسِ اللَّهْوِ. | Atha’ berkata: “Satu majelis ilmu dapat menghapus dosa dari tujuh puluh majelis kesia-siaan.” |
Dalam kutipan ini, kita diajak untuk memahami betapa tingginya kedudukan ilmu dalam pandangan para sahabat Nabi dan ulama salaf. Pernyataan Abu Darda mengenai lebih menyukai belajar satu masalah daripada salat malam bukanlah bermaksud meremehkan ibadah sunnah, melainkan ingin menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi. Tanpa ilmu, ibadah yang kita lakukan berisiko tidak sesuai dengan tuntunan yang benar, sehingga mempelajari ilmu menjadi prioritas yang sangat utama.
Selanjutnya, kita diingatkan melalui pesan Abu Darda agar tidak menjadi golongan keempat. Dalam kehidupan sosial, kita setidaknya harus mengambil peran dalam rantai transmisi ilmu. Jika kita belum mampu menjadi pengajar (alim), setidaknya kita harus menjadi pelajar (muta’allim). Jika kita belum sanggup belajar secara aktif, minimal kita menjadi pendengar yang baik (mustami’). Jika kita memilih untuk tidak peduli sama sekali terhadap ilmu, maka kita berada dalam bahaya kehancuran spiritual dan intelektual.
Pesan ini memberikan kita pilihan yang sangat logis dan realistis. Kita tidak harus selalu menjadi ulama besar untuk mendapatkan manfaat ilmu. Dengan menjadi pendengar yang baik di majelis taklim, kita sudah menyelamatkan diri kita dari golongan orang yang binasa. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang, apa pun profesinya, memiliki kewajiban untuk tetap terhubung dengan sumber-sumber kebenaran agar tidak tersesat dalam ketidaktahuan.
Selain itu, perkataan Atha’ memberikan motivasi yang luar biasa mengenai nilai sebuah majelis ilmu. Beliau menyebutkan bahwa satu majelis ilmu bisa menghapus dosa dari tujuh puluh majelis kesia-siaan. Ini adalah bentuk perbandingan antara aktivitas yang membangun jiwa dengan aktivitas yang hanya membuang-buang waktu (lahwun). Majelis ilmu memberikan keberkahan yang luas, sementara majelis kesia-siaan hanya memberikan kesenangan sesaat yang tidak bernilai di akhirat.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa waktu yang kita gunakan untuk duduk di majelis ilmu adalah investasi dunia dan akhirat. Dengan ilmu, kita bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Dengan ilmu pula, kualitas ibadah kita akan meningkat. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan yang selalu haus akan ilmu, baik sebagai pengajar, pelajar, maupun pendengar yang setia, agar kita terhindar dari kebinasaan.