| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللهُ: عَجِبْتُ لِمَنْ لَمْ يَطْلُبِ الْعِلْمَ كَيْفَ تَدْعُوهُ نَفْسُهُ إِلَى مَكْرُمَةٍ. | Ibnu al-Mubarak rahimahullah pernah berkata: “Kita patut heran kepada orang yang tidak mau menuntut ilmu, tapi jiwanya justru menuntut dirinya untuk melakukan kemuliaan.” |
| وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: إِنِّي لَا أَرْحَمُ رَجُلَيْنِ كَرَحْمَتِي لِأَحَدِ رَجُلَيْنِ. | Sebagian ahli hikmah juga berkata: “Sesungguhnya kita tidak akan merasa iba kepada dua jenis orang sebagaimana kita merasa iba kepada salah satu dari keduanya.” |
| رَجُلٌ يَطْلُبُ الْعِلْمَ وَلَا يَفْهَمُ، وَرَجُلٌ يَفْهَمُ الْعِلْمَ وَلَا يَطْلُبُهُ. | Yaitu orang yang rajin menuntut ilmu tapi tidak paham, dan orang yang punya kecerdasan untuk paham ilmu tapi tidak mau mencarinya. |
Pesan dari Ibnu al-Mubarak ini memberikan teguran yang sangat mendalam bagi kita semua. Beliau menyoroti sebuah kontradiksi yang aneh dalam diri manusia. Seringkali kita memiliki keinginan yang besar untuk menjadi orang yang mulia, memiliki akhlak yang baik, atau mendapatkan kedudukan yang terhormat di mata masyarakat. Namun, keinginan untuk mulia tersebut seringkali tidak dibarengi dengan usaha untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan.
Ilmu adalah fondasi dari setiap amal perbuatan. Tanpa ilmu, niat baik untuk melakukan kemuliaan atau kebaikan bisa menjadi salah arah atau bahkan tidak berbekas. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan sesuatu yang mulia jika kita tidak tahu tata cara, aturan, dan hakikat dari kemuliaan itu sendiri? Oleh karena itu, mengejar kemuliaan tanpa ilmu ibarat membangun rumah megah di atas tanah yang rapuh.
Selanjutnya, kutipan dari ahli hikmah tersebut memberikan kita dua potret manusia yang sangat menyedihkan. Potret pertama adalah orang yang sudah bersusah payah belajar, menghadiri majelis, dan membaca kitab, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk memahami apa yang dipelajari. Kondisi ini memang menyedihkan karena waktu dan tenaga yang dikeluarkan terasa sia-sia karena tidak membuahkan pemahaman yang benar.
Potret kedua justru terasa lebih tragis bagi kita. Yaitu orang yang sebenarnya memiliki kecerdasan, daya tangkap yang cepat, dan kemampuan berpikir yang tajam, namun ia justru malas untuk belajar. Ia memiliki potensi besar untuk menjadi cahaya bagi sekitarnya, namun ia memilih untuk membiarkan potensi tersebut mati karena rasa malas. Orang seperti ini sangat disayangkan karena ia menyia-nyiakan anugerah akal yang telah diberikan Tuhan kepadanya.
Melalui nasihat ini, kita diingatkan untuk mencari keseimbangan antara usaha (ikhtiar) dan kemampuan (kapasitas). Kita harus terus berjuang menuntut ilmu meskipun terasa sulit agar kita mendapatkan pemahaman. Di sisi lain, bagi rekan-rekanita yang merasa memiliki kecerdasan, janganlah sekali-kali merasa cukup dengan diri sendiri lalu berhenti belajar. Ilmu harus terus dicari agar kecerdasan yang kita miliki dapat memberikan manfaat yang nyata bagi kehidupan.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/9#p1