| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلَّا ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَمَا وَالَاهُ، أَوْ مُعَلِّمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا. | Dan Rasulullah SAW bersabda: Dunia itu terlaknat, dan terlaknatlah apa saja yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengannya, atau orang yang mengajarkan (ilmu) dan orang yang sedang belajar. |
Melalui hadis ini, kita diajak untuk memahami hakikat kehidupan dunia yang sebenarnya. Kata “terlaknat” dalam konteks ini bukan berarti dunia itu secara fisik jahat, melainkan dunia seringkali membuat kita lalai dan menjauhkan kita dari ketaatan kepada Sang Pencipta. Jika kita hanya mengejar kesenangan duniawi tanpa landasan ibadah, maka segala yang kita kumpulkan akan menjadi sia-sia dan tidak bernilai di hadapan Allah SWT.
Namun, ada pengecualian yang sangat indah dalam hadis ini. Segala sesuatu yang mendekatkan kita kepada Allah, seperti berzikir dan melakukan amalan yang sejalan dengan perintah-Nya, akan menjadi cahaya di tengah kegelapan dunia. Hal ini mengajarkan kita bahwa dunia bisa berubah menjadi ladang pahala jika kita mengisinya dengan mengingat Allah (zikir) serta melakukan aktivitas yang dicintai-Nya.
Selain zikir, Rasulullah SAW secara khusus menyebutkan peran pengajar dan pelajar sebagai pengecualian dari kutukan dunia. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu dalam Islam. Menjadi seorang guru yang menyampaikan kebenaran atau menjadi seorang murid yang tekun mencari ilmu adalah jalan untuk mengubah status dunia yang “terlaknat” menjadi dunia yang penuh dengan keberkahan dan rahmat.
Bagi kita, pesan ini adalah pengingat agar tidak terjebak dalam rutinitas dunia yang kosong. Kita perlu menyeimbangkan antara urusan materi dengan urusan spiritual. Jika kita hanya fokus pada harta dan jabatan, kita akan merasa hampa. Namun, jika kita menyisipkan waktu untuk belajar ilmu agama dan memperbanyak zikir, maka setiap detik kehidupan kita akan memiliki nilai yang kekal hingga akhirat nanti.
Kesimpulannya, mari kita jadikan setiap aktivitas kita sebagai sarana untuk meraih rida Allah. Baik itu saat kita sedang bekerja, belajar di kelas, atau saat sedang beristirahat, pastikan hati kita tetap terpaut kepada Allah. Dengan demikian, kita tidak akan menjadi hamba yang merugi, melainkan menjadi hamba yang mampu memanfaatkan dunia sebagai jembatan menuju surga-Nya.