| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ أُعْطِيَ ثَوَابَ سَبْعِينَ صِدِّيقًا. | Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mempelajari satu bab ilmu untuk kemudian diajarkan kepada orang lain, maka dia akan diberikan pahala setara dengan tujuh puluh orang siddiq (orang yang sangat jujur dalam imannya). |
| وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَنْ عَلِمَ وَعَمِلَ وَعَلَّمَ فَذَلِكَ يُدْعَى عَظِيمًا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ. | Dan Nabi Isa AS berkata: Barangsiapa yang berilmu, lalu mengamalkannya, kemudian mengajarkannya, maka orang tersebut akan dipanggil sebagai sosok yang agung di kerajaan langit. |
Melalui kutipan ini, kita diajak untuk memahami betapa mulianya kedudukan orang yang tidak hanya berhenti pada tahap belajar, tetapi juga melangkah ke tahap berbagi ilmu. Dalam tradisi pesantren, kita sering mendengar bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mengalir pahalanya meskipun pengajarnya sudah tiada. Rasulullah SAW memberikan apresiasi yang luar biasa besar, yaitu pahala yang setara dengan tujuh puluh orang siddiq, hanya karena satu bab ilmu yang dibagikan.
Istilah “siddiq” dalam teks tersebut merujuk pada derajat keimanan yang sangat tinggi, di mana perkataan dan perbuatan selalu selaras dengan kebenaran. Dengan menjanjikan pahala sebesar ini, kita diingatkan bahwa niat utama dalam menuntut ilmu haruslah untuk kemaslahatan umat, bukan sekadar untuk mencari gelar atau pujian manusia. Ketika kita belajar dengan niat untuk mengajar, maka setiap langkah kita dalam menuntut ilmu sudah bernilai ibadah yang sangat besar.
Selanjutnya, perkataan Nabi Isa AS memberikan tambahan perspektif yang sangat penting bagi kita semua, yaitu tentang pentingnya integrasi antara ilmu, amal, dan dakwah. Beliau menyebutkan tiga pilar utama: mengetahui (ilmu), melakukan (amal), dan mengajarkan (dakwah). Jika salah satu dari ketiga hal ini hilang, maka kesempurnaan derajat seseorang di hadapan Allah akan berkurang. Ilmu tanpa amal akan menjadi hujah yang memberatkan, sementara ilmu tanpa pengajaran akan menjadi ilmu yang mandul.
Keagungan yang dijanjikan di “kerajaan langit” menunjukkan bahwa pengakuan yang paling utama bukanlah pengakuan dari penduduk bumi, melainkan pengakuan dari penduduk langit. Seringkali kita merasa lelah saat belajar atau merasa berat saat harus menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Namun, jika kita menyadari bahwa setiap proses tersebut sedang membangun nama baik kita di alam malakut, maka semangat kita dalam menuntut ilmu dan berdakwah akan terus terjaga.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa proses belajar adalah perjalanan panjang yang tidak ada ujungnya. Kita harus berusaha agar setiap ilmu yang kita dapatkan dari kitab-kitab maupun guru-guru kita, segera kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah kita merasakan manfaatnya, barulah kita bagikan kepada rekan-rekanita yang lain. Dengan pola seperti inilah, kita bisa meraih derajat yang agung dan mendapatkan aliran pahala yang tidak terputus.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/10#p1