| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا مِنَ النَّاسِ بَعْدَ أَنْ يُؤْتِيَهُمْ إِيَّاهُ. | Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak mencabut ilmu secara langsung dari hati manusia setelah Dia memberikannya kepada mereka. |
| وَلَكِنْ يُذْهِبُ بِذَهَابِ الْعُلَمَاءِ. | Akan tetapi, Allah mencabut ilmu itu dengan cara mewafatkan para ulama. |
| فَكُلَّمَا ذَهَبَ عَالِمٌ ذَهَبَ بِمَا مَعَهُ مِنَ الْعِلْمِ. | Maka setiap kali seorang ulama wafat, maka hilang pula ilmu yang ada pada dirinya. |
| حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا رُؤَسَاءُ جُهَّالٌ. | Sampai akhirnya tidak tersisa lagi kecuali para pemimpin yang bodoh. |
| إِنْ سُئِلُوا أَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيُضِلُّونَ وَيُضَلُّونَ. | Jika mereka dimintai fatwa, mereka memberi fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menyesatkan orang lain dan diri mereka sendiri. |
Dalam pembahasan ini, kita sedang mempelajari sebuah peringatan yang sangat mendalam mengenai bagaimana ilmu agama bisa hilang dari muka bumi. Berdasarkan hadis yang disampaikan, Allah tidak mengambil ilmu dengan cara menghapus pemahaman secara tiba-tiba dari ingatan setiap orang. Sebaliknya, mekanisme yang terjadi adalah melalui wafatnya orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu tersebut. Ini menunjukkan bahwa keberadaan ulama adalah penjaga cahaya ilmu di tengah masyarakat.
Kita perlu menyadari bahwa ilmu bukan sekadar tumpukan informasi atau hafalan teks semata, melainkan sebuah cahaya yang dititipkan Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Ketika seorang ulama wafat, maka satu pintu ilmu tertutup. Jika fenomena ini terus terjadi tanpa ada generasi baru yang menggantikan posisi mereka, maka perlahan-lahan pondasi pemahaman agama dalam masyarakat akan semakin rapuh dan kehilangan esensinya.
Kondisi yang paling mengkhawatirkan adalah ketika dunia hanya menyisakan para pemimpin atau tokoh masyarakat yang sebenarnya tidak memiliki dasar ilmu yang kuat. Mereka disebut sebagai “pemimpin yang bodoh” karena mereka memiliki otoritas atau pengaruh, namun tidak dibekali dengan perangkat ilmu yang benar. Hal ini menjadi ancaman besar bagi keutuhan syariat karena mereka tidak lagi merujuk pada dalil yang sahih dalam mengambil keputusan.
Bahaya terbesar muncul ketika orang-orang yang tidak berilmu ini mulai berbicara atas nama agama. Ketika mereka dimintai fatwa atau pendapat mengenai hukum agama, mereka akan menjawab hanya berdasarkan logika semata, hawa nafsu, atau sekadar ikut-ikutan. Dampaknya sangat fatal, yaitu mereka tidak hanya memberikan pemahaman yang salah kepada orang lain, tetapi mereka juga ikut terjerumus ke dalam kesesatan itu sendiri.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama meningkatkan semangat dalam menuntut ilmu. Kita harus menyadari bahwa tugas kita bukan hanya menjadi penikmat ilmu, tetapi juga berusaha menjadi penyambung estafet ilmu tersebut. Dengan belajar secara sungguh-sungguh kepada guru-guru yang mumpuni, kita berharap dapat membantu menjaga agar cahaya ilmu tidak padam dan tidak membiarkan kesesatan merajalela di tengah-tengah kita.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/10#p1