| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَقُولُ اللهُ سُبْحَانَهُ لِلْعَابِدِينَ وَالْمُجَاهِدِينَ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ. | Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika hari kiamat tiba, Allah SWT berfirman kepada para ahli ibadah dan para pejuang: “Masuklah kalian ke dalam surga.” |
| فَيَقُولُ الْعُلَمَاءُ: بِفَضْلِ عِلْمِنَا تَعَبَّدُوا وَجَاهَدُوا. | Lalu para ulama berkata: “Berkat keutamaan ilmu kami, mereka bisa beribadah dan berjuang.” |
| فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنْتُمْ عِنْدِي كَبَعْضِ مَلَائِكَتِي، اشْفَعُوا تُشَفَّعُوا. | Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: “Kalian di sisi-Ku kedudukannya seperti sebagian malaikat-Ku, berilah syafaat maka kalian akan diberi syafaat.” |
| فَيَشْفَعُونَ ثُمَّ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ. | Lalu mereka memberikan syafaat, kemudian mereka pun masuk ke dalam surga. |
| وَهَذَا إِنَّمَا يَكُونُ بِالْعِلْمِ الْمُتَعَدِّي بِالتَّعْلِيمِ لَا الْعِلْمِ اللَّازِمِ الَّذِي لَا يَتَعَدَّى. | Hal ini hanya berlaku bagi ilmu yang manfaatnya meluas melalui pengajaran, bukan ilmu yang hanya bermanfaat untuk diri sendiri. |
Melalui teks ini, kita diajak untuk memahami betapa tingginya kedudukan orang yang memiliki ilmu yang bermanfaat. Dalam sebuah gambaran hari kiamat, para ahli ibadah dan pejuang mendapatkan perintah langsung dari Allah untuk masuk surga. Namun, ada sebuah momen istimewa di mana para ulama mengajukan diri untuk menjelaskan bahwa keberhasilan ibadah dan perjuangan orang-orang tersebut tidak lepas dari bimbingan ilmu yang telah mereka ajarkan sebelumnya.
Kedudukan para ulama dalam teks ini sangat luar biasa, bahkan digambarkan oleh Allah SWT memiliki kedudukan yang menyerupai sebagian malaikat. Hal ini menunjukkan bahwa peran seorang pengajar ilmu agama bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjadi perantara hidayah bagi orang lain. Karena peran inilah, mereka diberikan otoritas untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang telah mengamalkan ilmu tersebut.
Namun, rekan-rekanita perlu memperhatikan catatan penting di bagian akhir teks. Kemuliaan yang luar biasa ini tidak diberikan kepada semua pemilik ilmu secara umum. Ada pembedaan yang sangat jelas antara ilmu yang bersifat “mut’addi” (meluas) dan ilmu yang bersifat “lazim” (terbatas pada diri sendiri). Ini adalah pengingat bagi kita agar tidak hanya berhenti pada tahap belajar untuk diri sendiri.
Ilmu yang dimaksud dalam teks ini adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang lain melalui proses pengajaran atau dakwah. Jika kita memiliki ilmu lalu kita ajarkan kepada orang lain, sehingga orang tersebut bisa beribadah dengan benar atau berjuang di jalan Allah, maka pahala dari amal mereka akan terus mengalir kepada kita. Inilah yang disebut sebagai ilmu yang manfaatnya meluas dan menjadi sebab turunnya syafaat.
Sebaliknya, ilmu yang hanya bermanfaat untuk diri sendiri (ilmu lazim) memang tetap bernilai pahala, namun tidak memiliki dimensi sosial yang luas untuk memberikan syafaat kepada orang lain sebagaimana digambarkan dalam teks tersebut. Oleh karena itu, mari kita bertekad agar setiap ilmu yang kita pelajari di pesantren atau di mana pun, tidak hanya berhenti di kepala kita, melainkan juga sampai ke hati dan amal orang lain melalui pengajaran yang tulus.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/10#p1