| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَنْبَغِي لِلْجَاهِلِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى جَهْلِهِ، وَلَا لِلْعَالِمِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى عِلْمِهِ. | Rasulullah SAW bersabda: Tidak sepatutnya bagi orang yang tidak tahu untuk diam saja atas ketidaktahuannya, dan tidak pula bagi orang yang berilmu untuk diam saja atas ilmu yang dimilikinya. |
| وَفِي حَدِيثِ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: حُضُورُ مَجْلِسِ عَالِمٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ أَلْفِ رَكْعَةٍ، وَعِيَادَةِ أَلْفِ مَرِيضٍ، وَشُهُودِ أَلْفِ جِنَازَةٍ. | Dalam hadis Abu Dzarr RA disebutkan bahwa menghadiri majelis orang berilmu itu lebih utama daripada salat seribu rakaat, menjenguk seribu orang sakit, dan menghadiri seribu jenazah. |
| فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟ | Lalu ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan membaca Al-Qur’an?” |
| فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَهَلْ يَنْفَعُ الْقُرْآنُ إِلَّا بِالْعِلْمِ؟ | Maka Rasulullah SAW menjawab: “Memangnya Al-Qur’an bisa memberi manfaat kecuali dengan ilmu?” |
Melalui teks ini, kita diajak untuk memahami tanggung jawab moral yang melekat pada status pengetahuan kita. Seorang yang belum tahu tidak boleh merasa cukup dengan ketidaktahuannya, melainkan harus memiliki semangat untuk bertanya dan belajar agar kegelapan dalam pikirannya bisa sirna. Sebaliknya, bagi rekan-rekanita yang sudah memiliki ilmu, diam saja tanpa menyebarkannya adalah sebuah kerugian besar, karena ilmu yang tidak diamalkan dan tidak diajarkan ibarat pohon yang tidak berbuah.
Poin kedua menekankan betapa besarnya nilai sebuah majelis ilmu. Perbandingan yang diberikan dalam hadis ini sangat luar biasa, di mana menghadiri majelis ilmu disebut lebih utama daripada melakukan ibadah sunnah dalam jumlah yang sangat banyak, seperti salat seribu rakaat atau menjenguk seribu orang sakit. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu adalah kunci utama dalam menjalankan ibadah lainnya agar sesuai dengan syariat yang benar.
Mengapa majelis ilmu begitu tinggi kedudukannya? Karena ibadah seperti salat, menjenguk orang sakit, maupun mengurus jenazah, jika dilakukan tanpa landasan ilmu yang benar, dikhawatirkan akan salah dalam tata caranya. Dengan duduk di majelis ilmu, kita sedang membangun pondasi agar setiap amal ibadah yang kita lakukan nantinya memiliki nilai di sisi Allah SWT karena dilakukan dengan pemahaman yang tepat.
Bagian terakhir dari teks ini memberikan teguran halus namun mendalam mengenai interaksi kita dengan Al-Qur’an. Seringkali kita merasa sudah cukup hanya dengan membaca Al-Qur’an secara lisan, namun Rasulullah SAW menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an tanpa ilmu tidak akan memberikan manfaat yang sempurna. Ilmu adalah alat untuk memahami maksud, hukum, dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat-ayat suci tersebut.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa ilmu dan amal adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Belajar adalah kewajiban bagi yang belum tahu, dan mengajar adalah kewajiban bagi yang sudah tahu. Dengan memadukan keduanya, kita tidak hanya meningkatkan kualitas diri kita sendiri, tetapi juga membantu memperbaiki kualitas umat secara keseluruhan melalui pemahaman agama yang benar dan mendalam.