Berikut adalah pembahasan tentang hadis nomor 12702, dari kitab Fiqh Puasa Syiah yang dimuat di kitab Wasa’il al-Shia, sebuah kumpulan hadis penting dalam tradisi Ahlul Bait yang disusun oleh Syekh Al-Hurr al-Amili jilid sepuluh bagian bab kewajiban puasa.
|
kalimat berbahasa arab
|
artinya
|
|---|---|
|
مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ عُثْمَانَ، عَنِ الْحَلَبِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ (عَلَيْهِ السَّلَامُ) فِي حَدِيثٍ.
|
Muhammad bin Ya’qub meriwayatkan dari Ali bin Ibrahim, dari ayahnya, dari Ibnu Abi Umair, dari Hammad bin Usman, dari al-Halabi, dari Abu Abdillah (Imam Ja’far ash-Shadiq) dalam sebuah percakapan.
|
|
قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ رَجُلًا أَرَادَ أَنْ يَصُومَ ارْتِفَاعَ النَّهَارِ، أَيَصُومُ؟
|
Al-Halabi berkata: Aku bertanya kepada Imam: Ada seseorang yang ingin mulai berpuasa saat matahari sudah naik di siang hari, bolehkah dia berpuasa?
|
|
قَالَ: نَعَمْ.
|
Imam menjawab: Iya, boleh.
|
penjelasan:
Hadis nomor 12702 ini memberitahu kita tentang aturan niat puasa yang sangat memudahkan. Imam Ja’far ash-Shadiq menjelaskan bahwa kalau ada seseorang yang baru ingin mulai berpuasa saat matahari sudah tinggi atau sudah siang, hal itu tetap diperbolehkan. Syarat utamanya adalah orang tersebut belum makan atau minum apa pun sejak waktu subuh tiba hingga saat ia berniat tersebut.
Aturan ini sangat membantu bagi teman-teman yang mungkin lupa berniat puasa di malam harinya. Selama matahari belum tergelincir ke barat atau belum masuk waktu zuhur, kita masih punya kesempatan untuk menetapkan niat di dalam hati untuk menjalankan puasa wajib tersebut. Jadi, jangan langsung mengira puasa kita batal hanya karena lupa niat sebelum tidur, asalkan perut masih kosong dari makanan dan minuman.
Kebaikan ini menunjukkan bahwa Allah ingin kita tetap bisa beribadah meskipun ada kesalahan kecil seperti lupa. Dengan berniat di siang hari, hari tersebut tidak akan terbuang sia-sia dan tetap bisa dihitung sebagai hari puasa yang sah. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang dalam ajaran Islam agar kita tidak mudah putus asa dalam menjalankan kewajiban agama.
Perbandingan dengan Mazhab Sunni
- Mazhab Hanafi Mazhab ini membolehkan niat puasa Ramadhan dilakukan di siang hari sebelum masuk waktu zuhur (zawal), asalkan orang tersebut belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak fajar. Nama kitab: Al-Mabsut, penulis: As-Sarakhsi, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1993, jilid 3, halaman: 58.
- Mazhab Maliki Ulama dalam mazhab ini mewajibkan niat puasa dilakukan di malam hari sebelum fajar menyingsing untuk puasa yang bersifat wajib seperti puasa Ramadhan. Nama kitab: Al-Mudawwanah al-Kubra, penulis: Imam Malik, nama penerbit: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tahun terbit: 1994, jilid 1, halaman: 188.
- Mazhab Syafi’i Dalam pandangan mazhab ini, niat untuk puasa wajib harus dilakukan pada malam hari (tabyit) dan tidak sah jika baru dilakukan setelah terbit fajar shadiq. Nama kitab: Al-Umm, penulis: Imam asy-Syafi’i, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1990, jilid 2, halaman: 84.
- Mazhab Hanbali Mazhab ini juga mewajibkan niat puasa wajib dilakukan di malam hari sebelum fajar agar ibadah puasa tersebut dianggap sah secara hukum agama. Nama kitab: Al-Mughni, penulis: Ibnu Qudamah, nama penerbit: Dar al-Manar, tahun terbit: 1985, jilid 3, halaman: 109.