| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ، فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ فِي الْجَنَّةِ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ. | Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang menjemput kematian dalam keadaan sedang menuntut ilmu demi menghidupkan syiar Islam, maka jarak antara dirinya dengan para Nabi di surga nanti hanyalah satu derajat saja. |
| وَأَمَّا الْآثَارُ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: ذَلَلْتُ طَالِبًا، فَعُزِّزْتُ مَطْلُوبًا. | Adapun mengenai perkataan para ulama, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dulu kita merendahkan diri (bersusah payah) saat menjadi penuntut ilmu, maka kini kita dimuliakan saat menjadi orang yang dicari (memiliki ilmu).” |
Melalui teks ini, kita diajak untuk merenungi betapa tingginya kedudukan orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar agama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bahwa niat yang tulus untuk menjaga keberlangsungan Islam melalui ilmu akan membuahkan balasan yang luar biasa. Bayangkan saja, jarak antara seorang penuntut ilmu yang wafat dalam perjuangannya dengan para Nabi di surga hanya terpaut satu tingkat saja. Ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar bukan sekadar rutinitas intelektual, melainkan sebuah ibadah yang sangat agung.
Namun, ada catatan penting yang perlu kita perhatikan dalam teks tersebut, yaitu mengenai niat. Syarat utama untuk mendapatkan kemuliaan tersebut adalah “li yuhyiya bihil Islam” atau untuk menghidupkan Islam. Artinya, tujuan utama kita belajar bukan untuk pamer kepintaran, mencari gelar, atau sekadar mencari harta duniawi. Kita harus memastikan bahwa setiap huruf yang kita pelajari dan setiap kitab yang kita kaji, tujuannya adalah untuk menjaga agar cahaya Islam tetap menyala di muka bumi ini.
Selanjutnya, kita juga belajar dari perkataan sahabat Nabi, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tentang sebuah proses kehidupan yang sangat logis namun penuh hikmah. Beliau menggambarkan bahwa kemuliaan tidak datang secara instan. Ada fase “dzalaltu tholiban” di mana kita harus bersedia merasa rendah, lelah, sabar menghadapi kesulitan, dan mungkin harus meninggalkan kenyamanan demi mengejar ilmu. Fase ini adalah fase ujian mental dan fisik bagi kita semua.
Setelah melalui proses “merendahkan diri” dalam belajar tersebut, barulah datang fase “fa ‘uzziztu mathluban”. Artinya, setelah ilmu itu menetap di dalam dada, kedudukan kita akan berubah. Kita yang tadinya mencari ilmu, kini justru menjadi orang yang dicari oleh masyarakat karena ilmu yang kita miliki. Kemuliaan yang didapatkan di masa tua atau setelah menjadi alim adalah buah manis dari kesabaran yang kita tanam di masa muda saat menjadi santri atau pelajar.
Oleh karena itu, mari kita jadikan semangat ini sebagai motivasi dalam perjalanan belajar kita sehari-hari. Jangan pernah merasa malu atau merasa rendah saat kita harus bersusah payah menghafal, memahami kitab, atau mendatangi majelis ilmu. Ingatlah bahwa setiap kesulitan yang kita hadapi saat ini adalah investasi untuk kemuliaan kita di dunia dan kedudukan yang sangat dekat dengan para Nabi di akhirat kelak. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang istiqomah di jalan ilmu.