| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَكَذٰلِكَ قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ رَحِمَهُ اللّٰهُ: مَا رَأَيْتُ مِثْلَ ابْنِ عَبَّاسٍ. | Begitu juga Ibnu Abi Mulaikah—semoga Allah merahmatinya—pernah berkata bahwa kita tidak akan menemukan orang yang seperti Ibnu Abbas. |
| إِذَا رَأَيْتَهُ رَأَيْتَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا. | Kalau kita melihat wajahnya, kita akan melihat orang yang paling tampan parasnya. |
| وَإِذَا تَكَلَّمَ فَأَعْرَبَ النَّاسُ لِسَانًا. | Dan kalau beliau sedang berbicara, tutur katanya sangat jelas sehingga membuat orang lain mudah memahami maksudnya. |
| وَإِذَا أَفْتَى فَأَكْثَرَ النَّاسِ عِلْمًا. | Serta apabila beliau memberikan fatwa, hal itu membuat orang-orang semakin bertambah ilmu pengetahuannya. |
Teks yang sedang kita pelajari ini memberikan gambaran yang sangat indah mengenai sosok sahabat Nabi, yaitu Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. Melalui perkataan Ibnu Abi Mulaikah, kita diajak untuk melihat bahwa seorang ulama besar tidak hanya unggul dalam kapasitas intelektualnya saja, tetapi juga memiliki pancaran kebaikan yang terlihat dari kepribadiannya secara menyeluruh. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan seseorang dapat terpancar melalui akhlak dan penampilan yang menyenangkan.
Poin pertama yang disebutkan adalah mengenai ketampanan wajah beliau. Dalam tradisi para ulama, ketampanan wajah seorang saleh seringkali dianggap sebagai cerminan dari ketenangan hati dan kejernihan jiwa. Ketika kita melihat wajah seseorang yang senantiasa berdzikir dan dekat dengan Allah, akan muncul rasa sejuk di hati kita. Ini bukan sekadar tentang fisik semata, melainkan tentang aura positif yang dibawa oleh ketaatan kepada Sang Pencipta.
Selanjutnya, kita belajar tentang pentingnya kefasihan dalam berbicara. Ibnu Abbas dikenal sebagai orang yang sangat mampu menyampaikan kebenaran dengan bahasa yang sangat lugas dan mudah dimengerti. Dalam dunia dakwah, kemampuan menyampaikan pesan dengan bahasa yang “beradab” dan jelas adalah kunci agar pesan tersebut sampai ke hati pendengar. Beliau tidak menggunakan kata-kata yang membingungkan, melainkan kata-kata yang justru mencerahkan pikiran orang yang mendengarnya.
Aspek ketiga yang sangat krusial adalah kapasitas keilmuan beliau dalam memberikan fatwa. Ibnu Abbas dijuluki sebagai “Turjumanul Qur’an” atau penerjemah Al-Qur’an karena kedalaman pemahamannya. Ketika beliau berbicara mengenai hukum agama, ilmu yang disampaikan bukan sekadar teori, melainkan solusi yang mencerahkan. Hal ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat, di mana fatwa yang beliau berikan justru menjadi sarana bagi orang lain untuk semakin mendalami agama.
Sebagai penutup, pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa kesempurnaan seorang penuntut ilmu terletak pada perpaduan antara keindahan akhlak, kefasihan lisan, dan kedalaman ilmu. Kita perlu meneladani semangat Ibnu Abbas dalam menggali ilmu agar kita tidak hanya menjadi orang yang pintar secara kognitif, tetapi juga menjadi pribadi yang bermanfaat dan menyejukkan bagi lingkungan sekitar melalui tutur kata dan tindakan kita.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/9#p1