| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ تَعَالَى {وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا}. | Dan Allah Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal saleh?” |
| وَقَالَ تَعَالَى {ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ}. | Dan Allah Ta’ala berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” |
| وَقَالَ تَعَالَى {وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ}. | Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” |
| وَأَمَّا الْأَخْبَارُ فَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ: لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا. | Adapun dalil dari hadis, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman: “Sungguh, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu jauh lebih baik bagimu daripada dunia dan segala isinya.” |
| حَدِيثٌ قَالَ لِمُعَاذٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ: لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ الْحَدِيثَ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ مِنْ حَدِيثِ مُعَاذٍ. | Hadis tentang sabda Nabi kepada Mu’adz saat mengutusnya ke Yaman yang berbunyi: “Jika Allah memberi hidayah kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu…” hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadis Mu’adz. |
| وَفِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ سَهْلِ ابْنِ سَعْدٍ أَنَّهُ قَالَ ذَلِكَ لِعَلِيٍّ. | Dan dalam kitab Shahihain (Bukhari-Muslim) dari hadis Sahl bin Sa’ad, disebutkan bahwa Nabi juga menyampaikan hal serupa kepada Ali. |
Dalam pembahasan ini, kita sedang mempelajari betapa mulianya kedudukan orang yang berdakwah di jalan Allah. Melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang dikutip, kita diajak untuk menyadari bahwa tidak ada ucapan yang lebih indah dan lebih baik nilainya daripada ucapan seseorang yang mengajak orang lain untuk mengenal Allah. Dakwah bukan sekadar berbicara, tetapi harus dibarengi dengan amal saleh agar pesan yang disampaikan memiliki kekuatan dan ketulusan.
Selain itu, kita juga diingatkan tentang metode dalam berdakwah. Allah memberikan panduan agar kita menggunakan “hikmah” atau kebijaksanaan serta “mau’izhah hasanah” atau nasihat yang baik. Artinya, rekan-rekanita tidak boleh menyampaikan kebenaran dengan cara yang kasar atau memaksa, melainkan harus dengan cara yang santun, memahami kondisi orang yang diajak bicara, dan menyentuh hati mereka dengan cara yang paling tepat.
Poin penting lainnya adalah mengenai nilai sebuah hidayah. Melalui hadis Nabi kepada Mu’adz bin Jabal, kita memahami bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu diukur dari jumlah orang yang mengikuti kita. Jika kita berhasil membimbing satu orang saja menuju jalan yang benar, maka pahala dan kebaikan yang kita dapatkan itu nilainya melampaui kemewahan dunia beserta seluruh isinya. Ini adalah motivasi besar bagi kita agar tidak pernah merasa kecil dalam berbuat kebaikan.
Teks ini juga menunjukkan bahwa tugas dakwah ini bersifat umum dan diberikan kepada para sahabat pilihan. Baik itu Mu’adz bin Jabal yang diutus ke Yaman, maupun Ali bin Abi Thalib, keduanya mendapatkan pesan yang sama tentang besarnya nilai hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang memiliki ilmu memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikannya kepada orang lain dengan penuh kesabaran.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/10#p1