| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَكَتَمَهُ، أَلْجَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ. | Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa saja yang mengetahui suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengganjal mulutnya dengan tali kendali dari api neraka pada hari kiamat nanti. |
Rekan-rekanita sekalian, hadits yang baru saja kita pelajari ini memberikan peringatan yang sangat keras bagi siapa saja yang memiliki pengetahuan, terutama ilmu agama, namun sengaja tidak mau membagikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Menyembunyikan ilmu bukan hanya sekadar diam, tetapi ada unsur kesengajaan untuk menahan kebenaran agar tidak sampai ke telinga umat. Hal ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah keilmuan yang telah Allah titipkan kepada kita.
Dalam konteks kehidupan kita sebagai penuntut ilmu, kita perlu memahami bahwa ilmu itu ibarat cahaya. Jika kita menyimpannya sendiri tanpa membagikannya, cahaya itu tidak akan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Sebaliknya, jika kita menyebarkannya, ilmu tersebut akan semakin berkembang dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Sebaliknya, menahan ilmu justru akan mendatangkan dosa yang sangat berat di akhirat kelak.
Gambaran hukuman yang disebutkan dalam hadits ini sangat mengerikan, yaitu “aljamahu” atau diganjal mulutnya dengan tali kendali dari api neraka. Tali kendali atau kekang biasanya digunakan untuk mengontrol hewan agar patuh. Dalam hal ini, Allah memberikan balasan yang setimpal (al-jaza’ min jinsil ‘amal); karena di dunia orang tersebut menggunakan mulutnya untuk menahan kebenaran, maka di akhirat mulutnya akan dikunci atau dikendalikan dengan api neraka sebagai bentuk penghinaan.
Namun, kita juga perlu berhati-hati dalam mempraktikkan perintah untuk menyampaikan ilmu ini. Menyampaikan ilmu tidak boleh dilakukan secara sembarangan tanpa dasar yang kuat. Kita tidak boleh asal bicara atau menyebarkan sesuatu yang belum kita yakini kebenarannya hanya karena ingin terlihat berilmu. Menyampaikan ilmu harus disertai dengan persiapan, adab yang baik, dan pemahaman yang mendalam agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam penyampaiannya.
Oleh karena itu, marilah kita berkomitmen untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Jika kita sudah mempelajari suatu kebaikan, sekecil apa pun itu, janganlah kita merasa pelit untuk mengajarkannya kepada teman atau kerabat kita. Mari kita jadikan ilmu yang kita miliki sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama manusia menuju jalan yang benar, sehingga kita terhindar dari ancaman siksa api neraka tersebut.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/10#p1