Skip to content

surauEMKA

مَا زِلتَ طالبًا

Menu
  • Home
  • Pendidikan
  • Ke-NU-an
  • Bahtsul Masail
  • PKB
  • Kitab Kuning
    • Ihya Ulumiddin
    • Nashoihul Ibad
    • Idhotun Nasyiin
    • Jurumiyah
    • Alala
    • Akhlaq lil Banin
Menu

Selain Hisab Global Punya Kelemahan, Hisab & Rukyah Per Negara Juga Punya Kelemahan!

Posted on February 14, 2026 by Manarul Ikhsan

Pernah nggak sih kalian bingung kenapa negara tetangga kadang sudah Lebaran duluan, tapi kita di sini masih puasa? Rasanya aneh banget kan. Banyak yang bilang kalau sistem lokal per negara itu solusi terbaik, padahal sebenarnya sistem ini cuma “mindahin” titik lemahnya aja. Yuk, kami ajak kalian membedah kenapa sistem per negara ini punya paradoks yang bikin pusing dan nggak kalah rumit dari hisab global.

Beralih dari hisab global ke sistem hisab dan rukyah lokal (per negara) sering dianggap sebagai jalan keluar untuk menghargai kedaulatan masing-masing wilayah. Namun, kalau kita teliti lebih dalam, langkah ini nggak serta-merta menghilangkan masalah. Kalau hisab global dianggap lemah karena memaksakan keseragaman waktu di seluruh dunia, hisab lokal justru lemah dalam hal konsistensi logis dan batasan geografis. Berikut adalah analisis mendalam mengenai kelemahan sistem lokal yang perlu kalian pahami:

  1. Paradoks Batas Negara vs Realitas Langit
    Masalah paling mencolok dari penerapan sistem lokal adalah benturan antara batas politik negara dengan pergerakan benda langit. Bulan itu benda astronomi yang bergerak melintasi bumi tanpa peduli soal paspor, imigrasi, atau kedaulatan negara. Penerapan hisab atau rukyah lokal sering kali ngebuat adanya “diskontinuitas waktu” yang sangat absurd di perbatasan. Bayangkan saja dua kota yang jaraknya cuma 10 km di perbatasan Indonesia-Malaysia atau Arab Saudi-Yaman.

    Jika negara A menetapkan kriteria hilal harus di atas ufuk dan negara B punya kriteria beda (atau hasil rukyahnya beda), bisa terjadi situasi di mana penduduk di sisi kiri jalan sudah shalat Idul Fitri, sementara tetangganya di sisi kanan jalan masih wajib puasa. Hal ini ngebikin kebingungan sosial di mana “kebenaran fiqh” seolah-olah tunduk pada garis batas politik buatan manusia, bukan pada realitas astronomis yang sebenarnya sama.

  2. Problematika Wilayah Negara yang Terlalu Luas
    Negara dengan wilayah yang membentang sangat luas secara horizontal seperti Indonesia atau Amerika Serikat menghadapi masalah internal yang cukup pelik dalam penerapan konsep “Lokal”. Kalian harus ingat, satu negara bisa mencakup tiga zona waktu atau bahkan lebih. Di Indonesia misalnya, dari Sabang sampai Merauke itu jaraknya sangat jauh.

    Anomalinya terjadi ketika hilal mungkin sudah terbit dan terlihat di Merauke (Papua), tapi matahari bahkan belum tenggelam di Sabang (Aceh). Jika kriteria hisab lokal adalah “Hilal sudah di atas horizon di wilayah negara”, maka warga di timur yang sebenarnya sudah bisa melihat hilal lebih awal “terpaksa” menunggu konfirmasi dari pusat atau wilayah barat. Sebaliknya, demi kesatuan (uniformity), pemerintah sering mengambil keputusan “pukul rata”. Akibatnya, keputusan hisab atau rukyah lokal ini sering kali bertentangan dengan realitas langit di sebagian wilayah negaranya sendiri. Kebijakan ini kayaknya lebih mengutamakan persatuan nasional daripada akurasi astronomis di tiap titik lokal.

  3. Kemandekan Sistem di Lintang Tinggi
    Sistem rukyah lokal mungkin bisa berjalan lancar di negara tropis, tapi sistem ini mengalami kegagalan total operasional jika diterapkan di negara-negara lintang tinggi dekat kutub. Situasi ini sering terjadi di negara-negara Skandinavia, Kanada Utara, atau Rusia, terutama saat musim panas di mana malam hari sangat pendek atau bahkan terjadi white nights (tidak ada malam gelap).

    Di wilayah tersebut, hilal atau bulan sabit baru memiliki sudut kemiringan yang sangat rendah dan terbenam hampir berbarengan dengan matahari. Karena langit nggak pernah benar-benar gelap total, cahaya bulan yang redup bakal kalah telak dan tenggelam oleh cahaya senja yang masih terang. Hasilnya, rukyah lokal menjadi mustahil dilakukan (impossible to sight). Pada akhirnya, umat Islam di sana terpaksa meninggalkan sistem lokal mereka dan mengadopsi hisab atau mengikuti negara lain seperti Arab Saudi. Ini membuktikan bahwa secara praktis, sistem lokal mereka bisa “kolaps” dan nggak berlaku universal.

  4. Ketergantungan pada Faktor Cuaca yang Acak
    Perbedaan mendasar lainnya adalah sifat deterministik dan probabilistik. Hisab global itu hitungan matematika yang pasti (deterministik), sedangkan rukyah lokal itu sangat bergantung pada peluang cuaca (probabilistik). Keputusan awal bulan di tingkat lokal jadi sangat rentan terhadap anomali cuaca jangka pendek yang nggak bisa diprediksi.

    Skenarionya begini: Secara hitungan astronomis, hilal sudah tinggi dan kriteria hisab terpenuhi. Tapi, di titik pemantauan rukyah, langit tertutup awan tebal atau mendung. Dalam pandangan sebagian mazhab yang mengharuskan rukyah fisik, jika bulan nggak terlihat karena awan, maka awal bulan baru bisa saja ditunda. Ini ngebikin adanya “anomali administratif” di mana kalender hijriah bisa melenceng satu hari dari realitas posisi bulan yang sebenarnya, cuma gara-gara faktor cuaca sesaat di lokasi pantau. Hisab global, di sisi lain, nggak bakal terganggu oleh masalah awan atau hujan ini.

  5. Perbandingan Apple-to-Apple: Global vs Lokal
    Kalau kita coba ngebandingin secara ringkas, kedua sistem ini punya “penyakit” masing-masing. Hisab Global lemah di fondasi “keterikatan” visual karena seringkali menetapkan tanggal padahal bulan mustahil dilihat mata. Namun, Hisab Lokal lemah di “batas geopolitik” karena menganggap batas negara seolah-olah batas pergerakan hilal.

    Untuk wilayah kutub, hisab global mengalami anomali matematika (definisi waktu kabur), sedangkan rukyah lokal mengalami anomali operasional (mustahil melihat bulan). Dari segi konsistensi, hisab global konsisten secara matematis meski kadang nggak sesuai pandangan mata lokal. Sebaliknya, hisab lokal konsisten secara politik nasional demi persatuan warga satu negara, tapi jadi nggak konsisten kalau dilihat dari perspektif langit antar negara tetangga. Sumber kesalahannya pun beda; global berisiko pada parameter fisika, sedangkan lokal berisiko pada politik, cuaca, dan luas wilayah.

Jadi, bisa kita simpulkan bahwa beralih ke hisab dan rukyah lokal itu sebenarnya membuat keputusan lebih realistis secara sosial-politik, tapi justru lebih rapuh secara astronomis-fisik dibandingkan hisab global. Kelemahan terbesarnya adalah ketidakmampuan menjawab tantangan di wilayah ekstrem dan kekacauan logika di perbatasan negara. Kalau hisab global itu “memaksakan” satu kebenaran hitungan buat satu bumi, hisab lokal sepertinya “memaksakan” keputusan politik buat satu negara yang kondisi langitnya belum tentu seragam.

Nah, solusi yang sekarang lagi banyak dibicarakan dan dicoba adalah Hisab Wilayah atau Regional, kayak kerja sama MABIMS di Asia Tenggara. Sistem ini mencoba mengambil jalan tengah: nggak se-global seluruh dunia, tapi juga nggak se-sempit ego negara masing-masing. Harapannya, kriteria yang disepakati bersama ini bisa ngurangin kelemahan ekstrem di kedua sisi tadi. Semoga wawasan ini bisa ngebantu rekan-rekanita lebih paham kenapa sidang isbat itu prosesnya rumit dan penting. Terima kasih sudah membaca sampai akhir, mari kita sikapi perbedaan dengan bijak!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Recent Posts

  • Selain Hisab Global Punya Kelemahan, Hisab & Rukyah Per Negara Juga Punya Kelemahan!
  • Ini Kelemahan Hisab Global Muhammadiyah dan Prediksi Error Ribuan Tahun Nanti
  • Terjemah Kitab Tsaquful Akhyarin Nahdliyah (Qurratu ‘Ayn) – Part 4 Menggabungkan Tanzih dan Tashbih dalam Aqidah
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 24 Keutamaan dan Semangat Mencari Ilmu
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 23 Keutamaan Mencari Ilmu
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 22 Keutamaan Menuntut Ilmu
  • Terjemah Kitab Tsaquful Akhyarin Nahdliyin – Part 4 Hubungan Ulama-Umara dan Syarat Menurunkan Pemimpin
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 21 Wafatnya Ulama dan Tangguhnya Penuntut Ilmu
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 20 Nasihat Pentingnya Menuntut Ilmu dan Dekat Ulama
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 19 Ilmu Mengangkat Derajat Hamba Sahaya
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 18 Kemuliaan Ilmu dan Kedudukan Ulama
  • Terjemah Alfiyah Ibnu Malik – Pengertian Kalam dan Ciri-Ciri Kata
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Bab Ilmu – Part 17 Kemuliaan Penuntut Ilmu di Sisi Allah
  • Terjemah Mafatihu Arabiyah Matan Jurumiyah – Pengertian Kalam dan Pembagian Kata
  • Terjemah Mafatihu Arabiyah Matan Jurumiyah – Pembukaan dan Contoh I’rab Dasar
  • Apa itu Aturan Waktu Futsal dan Extra Time di Permainan Futsal?
  • Contoh Jawaban Refleksi Diri “Bagaimana Refleksi tentang Praktik Kinerja Selama Observasi Praktik Kinerja”
  • Main Telegram Dapat Uang Hoax atau Fakta?
  • Apa itu Lock iCloud? Ini Artinya
  • Integrasi KBC dan PM di Madrasah? Ini Pengertian dan Contoh Praktiknya
  • Ini Trik Input Pelaksana PBJ di Dapodik 2026.C Biar Info GTK Langsung Valid dan Aman!
  • Apa Maksud Hukum Dasar yang Dijadikan Pegangan dalam Penyelenggaraan Suatu Negara? Ini Jawabannya
  • Apakah Apk Puskanas Penipuan?
  • Inilah 10 Alternatif Mesin Pencari Selain Yandex yang Anti Blokir dan Aman Digunakan
  • Caranya Supaya WhatsApp Nggak Kena Spam Terus Meski Sudah Ganti Nomor, Ternyata Ini Rahasianya!
  • How to Fix OpenGL 2.1 Errors: What You Need to Know
  • pGrok: Personal Ngrok Alternative with Dashboard & HTTP Request Inspect
  • Is the Raspberry Pi Still an Affordable SBC? 2026 Update
  • How to Launch Your Own Cloud Hosting Platform with ClawHost
  • Notepad Remote Code Execution CVE-2026-20841 Explained
  • Crossover 26 Released: New Features for Linux Users
  • Cosmic Desktop 1.0.6 Released: What’s New for Linux Users?
  • MOS: A New Open-Source OS for Home Labs and Self-Hosting
  • Windows 11 Dock Test: Linux/MacOS Style via PowerToys
  • Microsoft Ends 3D Viewer in Windows 11, Creators Update Era Over
  • Prompt AI untuk Merancang Karakter Brand yang Ikonik
  • Prompt AI Audit Konten Sesuai Karakter Brand
  • Prompt AI Merubah Postingan LinkedIn Jadi Ladang Diskusi dengan ChatGPT
  • Prompt AI: Paksa Algoritma LinkedIn Promosikan Konten Kalian
  • Inilah Cara Bikin Postingan Viral Menggunakan AI
  • Inilah Cara Buat Conversation Starter di Claude Project Agar Workflow Kalian Lebih Sat-Set
  • Cara Membuat Knowledge Base Audit untuk Claude Project Agar Dokumen Kalian Nggak Berantakan
  • Cara Ubah Role Definition Menjadi Custom Instructions yang Efektif buat Claude Project
  • Cara Mendefinisikan Role Project Claude Agar Hasilnya Lebih Akurat dan Konsisten
  • Cara Buat AI Asisten Pribadi dengan Teknik RAG
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
  • Apa itu Skandal BlackCat Ransomware?
  • Apa itu ToneShell? Backdoor atau Malware Biasa?

Categories

  • Akhlaq lil Banin
  • Alala
  • Alfiyah Ibnu Malik
  • Bahtsul Masail
  • Cerita
  • Download
  • Gusdur
  • Idhotun Nasyiin
  • Ihya Ulumiddin
  • Ilmu Umum
  • Jurumiyah
  • Ke-NU-an
  • Nashoihul Ibad
  • Pendidikan
  • PKB
  • Tokoh
  • Tsaquful Akhyarin Nahdliyah
  • Uncategorized
©2026 surauEMKA | Design: Newspaperly WordPress Theme