Pernah nggak sih kalian bingung kenapa negara tetangga kadang sudah Lebaran duluan, tapi kita di sini masih puasa? Rasanya aneh banget kan. Banyak yang bilang kalau sistem lokal per negara itu solusi terbaik, padahal sebenarnya sistem ini cuma “mindahin” titik lemahnya aja. Yuk, kami ajak kalian membedah kenapa sistem per negara ini punya paradoks yang bikin pusing dan nggak kalah rumit dari hisab global.
Beralih dari hisab global ke sistem hisab dan rukyah lokal (per negara) sering dianggap sebagai jalan keluar untuk menghargai kedaulatan masing-masing wilayah. Namun, kalau kita teliti lebih dalam, langkah ini nggak serta-merta menghilangkan masalah. Kalau hisab global dianggap lemah karena memaksakan keseragaman waktu di seluruh dunia, hisab lokal justru lemah dalam hal konsistensi logis dan batasan geografis. Berikut adalah analisis mendalam mengenai kelemahan sistem lokal yang perlu kalian pahami:
-
Paradoks Batas Negara vs Realitas Langit
Masalah paling mencolok dari penerapan sistem lokal adalah benturan antara batas politik negara dengan pergerakan benda langit. Bulan itu benda astronomi yang bergerak melintasi bumi tanpa peduli soal paspor, imigrasi, atau kedaulatan negara. Penerapan hisab atau rukyah lokal sering kali ngebuat adanya “diskontinuitas waktu” yang sangat absurd di perbatasan. Bayangkan saja dua kota yang jaraknya cuma 10 km di perbatasan Indonesia-Malaysia atau Arab Saudi-Yaman.Jika negara A menetapkan kriteria hilal harus di atas ufuk dan negara B punya kriteria beda (atau hasil rukyahnya beda), bisa terjadi situasi di mana penduduk di sisi kiri jalan sudah shalat Idul Fitri, sementara tetangganya di sisi kanan jalan masih wajib puasa. Hal ini ngebikin kebingungan sosial di mana “kebenaran fiqh” seolah-olah tunduk pada garis batas politik buatan manusia, bukan pada realitas astronomis yang sebenarnya sama.
-
Problematika Wilayah Negara yang Terlalu Luas
Negara dengan wilayah yang membentang sangat luas secara horizontal seperti Indonesia atau Amerika Serikat menghadapi masalah internal yang cukup pelik dalam penerapan konsep “Lokal”. Kalian harus ingat, satu negara bisa mencakup tiga zona waktu atau bahkan lebih. Di Indonesia misalnya, dari Sabang sampai Merauke itu jaraknya sangat jauh.Anomalinya terjadi ketika hilal mungkin sudah terbit dan terlihat di Merauke (Papua), tapi matahari bahkan belum tenggelam di Sabang (Aceh). Jika kriteria hisab lokal adalah “Hilal sudah di atas horizon di wilayah negara”, maka warga di timur yang sebenarnya sudah bisa melihat hilal lebih awal “terpaksa” menunggu konfirmasi dari pusat atau wilayah barat. Sebaliknya, demi kesatuan (uniformity), pemerintah sering mengambil keputusan “pukul rata”. Akibatnya, keputusan hisab atau rukyah lokal ini sering kali bertentangan dengan realitas langit di sebagian wilayah negaranya sendiri. Kebijakan ini kayaknya lebih mengutamakan persatuan nasional daripada akurasi astronomis di tiap titik lokal.
-
Kemandekan Sistem di Lintang Tinggi
Sistem rukyah lokal mungkin bisa berjalan lancar di negara tropis, tapi sistem ini mengalami kegagalan total operasional jika diterapkan di negara-negara lintang tinggi dekat kutub. Situasi ini sering terjadi di negara-negara Skandinavia, Kanada Utara, atau Rusia, terutama saat musim panas di mana malam hari sangat pendek atau bahkan terjadi white nights (tidak ada malam gelap).Di wilayah tersebut, hilal atau bulan sabit baru memiliki sudut kemiringan yang sangat rendah dan terbenam hampir berbarengan dengan matahari. Karena langit nggak pernah benar-benar gelap total, cahaya bulan yang redup bakal kalah telak dan tenggelam oleh cahaya senja yang masih terang. Hasilnya, rukyah lokal menjadi mustahil dilakukan (impossible to sight). Pada akhirnya, umat Islam di sana terpaksa meninggalkan sistem lokal mereka dan mengadopsi hisab atau mengikuti negara lain seperti Arab Saudi. Ini membuktikan bahwa secara praktis, sistem lokal mereka bisa “kolaps” dan nggak berlaku universal.
-
Ketergantungan pada Faktor Cuaca yang Acak
Perbedaan mendasar lainnya adalah sifat deterministik dan probabilistik. Hisab global itu hitungan matematika yang pasti (deterministik), sedangkan rukyah lokal itu sangat bergantung pada peluang cuaca (probabilistik). Keputusan awal bulan di tingkat lokal jadi sangat rentan terhadap anomali cuaca jangka pendek yang nggak bisa diprediksi.Skenarionya begini: Secara hitungan astronomis, hilal sudah tinggi dan kriteria hisab terpenuhi. Tapi, di titik pemantauan rukyah, langit tertutup awan tebal atau mendung. Dalam pandangan sebagian mazhab yang mengharuskan rukyah fisik, jika bulan nggak terlihat karena awan, maka awal bulan baru bisa saja ditunda. Ini ngebikin adanya “anomali administratif” di mana kalender hijriah bisa melenceng satu hari dari realitas posisi bulan yang sebenarnya, cuma gara-gara faktor cuaca sesaat di lokasi pantau. Hisab global, di sisi lain, nggak bakal terganggu oleh masalah awan atau hujan ini.
-
Perbandingan Apple-to-Apple: Global vs Lokal
Kalau kita coba ngebandingin secara ringkas, kedua sistem ini punya “penyakit” masing-masing. Hisab Global lemah di fondasi “keterikatan” visual karena seringkali menetapkan tanggal padahal bulan mustahil dilihat mata. Namun, Hisab Lokal lemah di “batas geopolitik” karena menganggap batas negara seolah-olah batas pergerakan hilal.Untuk wilayah kutub, hisab global mengalami anomali matematika (definisi waktu kabur), sedangkan rukyah lokal mengalami anomali operasional (mustahil melihat bulan). Dari segi konsistensi, hisab global konsisten secara matematis meski kadang nggak sesuai pandangan mata lokal. Sebaliknya, hisab lokal konsisten secara politik nasional demi persatuan warga satu negara, tapi jadi nggak konsisten kalau dilihat dari perspektif langit antar negara tetangga. Sumber kesalahannya pun beda; global berisiko pada parameter fisika, sedangkan lokal berisiko pada politik, cuaca, dan luas wilayah.
Jadi, bisa kita simpulkan bahwa beralih ke hisab dan rukyah lokal itu sebenarnya membuat keputusan lebih realistis secara sosial-politik, tapi justru lebih rapuh secara astronomis-fisik dibandingkan hisab global. Kelemahan terbesarnya adalah ketidakmampuan menjawab tantangan di wilayah ekstrem dan kekacauan logika di perbatasan negara. Kalau hisab global itu “memaksakan” satu kebenaran hitungan buat satu bumi, hisab lokal sepertinya “memaksakan” keputusan politik buat satu negara yang kondisi langitnya belum tentu seragam.
Nah, solusi yang sekarang lagi banyak dibicarakan dan dicoba adalah Hisab Wilayah atau Regional, kayak kerja sama MABIMS di Asia Tenggara. Sistem ini mencoba mengambil jalan tengah: nggak se-global seluruh dunia, tapi juga nggak se-sempit ego negara masing-masing. Harapannya, kriteria yang disepakati bersama ini bisa ngurangin kelemahan ekstrem di kedua sisi tadi. Semoga wawasan ini bisa ngebantu rekan-rekanita lebih paham kenapa sidang isbat itu prosesnya rumit dan penting. Terima kasih sudah membaca sampai akhir, mari kita sikapi perbedaan dengan bijak!