| Kalam | Artinya |
| وَقَالَ سَالِمُ بْنُ أَبِي الْجَعْدِ: اشْتَرَانِي مَوْلَايَ بِثَلَاثِمِائَةِ دِرْهَمٍ، وَأَعْتَقَنِي، فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ أَحْتَرِفُ؟ فَاحْتَرَفْتُ بِالْعِلْمِ، فَمَا تَمَّتْ لِي سَنَةٌ حَتَّى أَتَانِي أَمِيرُ الْمَدِينَةِ زَائِرًا، فَلَمْ آذَنْ لَهُ | Salim bin Abi Al-Ja’d bercerita: “Dulu tuanku membeliku seharga tiga ratus dirham, lalu dia membebaskanku. Aku pun berpikir, ‘Pekerjaan apa yang harus aku lakukan?’ Akhirnya, aku memilih untuk menekuni ilmu. Belum genap satu tahun aku belajar, Amir Madinah datang mengunjungiku, tapi aku tidak mengizinkan dia masuk.” |
Penjelasan:
Kisah ini menceritakan tentang Salim bin Abi Al-Ja’d. Awalnya, dia adalah seorang hamba sahaya (budak) yang dibeli oleh tuannya dengan harga 300 dirham. Namun, tuannya sangat baik hati dan kemudian memerdekakannya sehingga dia menjadi orang bebas.
Setelah bebas, Salim bingung harus bekerja sebagai apa untuk menyambung hidup. Dia bertanya pada dirinya sendiri, “Kira-kira pekerjaan apa yang cocok untukku?” Akhirnya, dia memilih untuk “bekerja” dengan cara menuntut ilmu agama dengan sungguh-sungguh.
Hasilnya sangat luar biasa. Belum sampai satu tahun dia belajar, derajatnya menjadi sangat tinggi di mata masyarakat karena ilmunya. Saking mulianya, seorang Amir Madinah (Gubernur atau pemimpin kota Madinah saat itu) sampai datang ingin bertamu ke rumahnya. Namun, karena kemuliaan dan kewibawaan yang dimiliki Salim berkat ilmunya, dia bahkan berani untuk tidak memberi izin kepada sang Amir untuk menemuinya saat itu. Ini menunjukkan bahwa ilmu bisa mengangkat derajat seseorang dari bekas budak menjadi orang yang sangat dihormati, bahkan oleh pejabat tinggi sekalipun.