Berikut adalah Terjemah Mafatihu Arabiyah Matan Jurumiyah – Pengertian Kalam dan Pembagian Kata:
| kalam | artinya |
| بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ | Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. |
| ابْتَدَأَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كِتَابَهُ بِالْبَسْمَلَةِ اقْتِدَاءً بِالْكِتَابِ الْعَزِيزِ وَعَمَلًا بِحَدِيثِ: كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَهُوَ أَقْطَعُ أَيْ قَلِيلُ الْبَرَكَةِ. | Penulis memulai bukunya dengan membaca bismillah karena mencontoh Al-Qur’an dan mengamalkan hadis yang isinya:
setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan bismillah maka urusan itu terputus, maksudnya sedikit keberkahannya. |
| وَإِعْرَابُهَا: بِسْمِ: جَارٌّ وَمَجْرُورٌ، الْبَاءُ حَرْفُ جَرٍّ، وَاسْمُ مَجْرُورٌ بِالْبَاءِ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ كَسْرَةٌ ظَاهِرَةٌ فِي آخِرِهِ. | Cara menjelaskan kedudukan katanya adalah: kata “Bismi” terdiri dari dua bagian, yaitu huruf “Ba” sebagai huruf jar dan kata “Ismu” yang menjadi majrur karena ada huruf “Ba”, tanda majrurnya adalah kasroh yang terlihat jelas di huruf terakhirnya. |
| وَاسْمُ: مُضَافٌ، وَالِاسْمُ الْكَرِيمُ مُضَافٌ إِلَيْهِ مَجْرُورٌ بِالْمُضَافِ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ كَسْرُ الْهَاءِ تَأَدُّبًا. | Kata “Ismu” berkedudukan sebagai mudhaf, dan nama Allah yang mulia menjadi mudhaf ilaih yang ikut majrur karena mudhaf-nya, tanda majrurnya adalah suara kasroh pada huruf “Ha” sebagai bentuk sopan santun kepada Allah. |
| الرَّحْمَنِ: صِفَةٌ لِلهِ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ كَسْرَةٌ ظَاهِرَةٌ فِي آخِرِهِ. | Kata “Ar-Rahman” adalah sifat bagi Allah yang juga majrur, dan tanda majrurnya adalah kasroh yang terlihat di akhirnya. |
| الرَّحِيمِ: صِفَةٌ ثَانِيَةٌ مَجْرُورٌ، وَعَلَامَةُ جَرِّهِ كَسْرَةٌ ظَاهِرَةٌ فِي آخِرِهِ. | Kata “Ar-Rahim” adalah sifat kedua yang juga majrur, tanda majrurnya adalah kasroh yang terlihat jelas di akhir kata. |
| الْكَلَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ، الْمُفِيدُ بِالْوَضْعِ هَذَا هُوَ تَعْرِيفُ الْكَلَامِ فِي اصْطِلَاحِ النَّحْوِيِّينَ. | Al-Kalam adalah ucapan yang mengandung suara, tersusun, memberikan pemahaman yang lengkap, dan menggunakan bahasa Arab, inilah pengertian Kalam menurut para ahli Nahwu. |
| وَالنَّحْوُ: مَعْرِفَةُ أُصُولٍ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ لِلِاسْتِعَانَةِ عَلَى فَهْمِ كَلَامِ اللهِ تَعَالَى وَكَلَامِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَلَامِ الْعُلَمَاءِ. | Ilmu Nahwu adalah ilmu tentang aturan-aturan untuk mengetahui keadaan perubahan di akhir setiap kata supaya kita bisa terbantu dalam memahami ucapan Allah Ta’ala, ucapan Rasul-Nya, dan ucapan para ulama. |
| وَاللَّفْظُ: هُوَ الصَّوْتُ الْمُشْتَمِلُ عَلَى بَعْضِ الْحُرُوفِ الْهِجَائِيَّةِ. | Al-Lafadz adalah suara yang terdiri dari beberapa huruf hijaiyah. |
| وَالْمُرَكَّبُ مَا تَرَكَّبَ مِنْ كَلِمَتَيْنِ فَأَكْثَرَ. | Al-Murakkab adalah sesuatu yang tersusun dari dua kata atau lebih. |
| وَالْمُفِيدُ مَا أَفَادَ فَائِدَةً تَامَّةً يَحْسُنُ سُكُوتُ الْمُتَكَلِّمِ عَلَيْهَا. | Al-Mufid adalah ucapan yang memberikan pengertian yang sempurna sampai pendengar merasa cukup dan tidak perlu bertanya lagi. |
| وَقَوْلُهُ بِالْوَضْعِ: أَيْ بِالْعَرَبِيِّ. | Perkataan penulis “Bil-Wadh’i” maksudnya adalah menggunakan bahasa Arab. |
| مِثَالُ ذَلِكَ: قَامَ زَيْدٌ وَإِعْرَابُهُ قَامَ فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، وَزَيْدٌ فَاعِلٌ، وَالْفَاعِلُ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ضَمَّةٌ ظَاهِرَةٌ فِي آخِرِهِ. | Contohnya adalah “Qoma Zaidun”; cara menjelaskan kedudukannya adalah “Qoma” merupakan Fi’il Madhi yang harokat akhirnya tetap fathah, dan “Zaidun” adalah Fa’il atau pelakunya, dan Fa’il itu harus marfu’, tanda marfu’nya adalah dhommah yang terlihat jelas di akhirnya. |
| وَأَقْسَامُهُ ثَلَاثَةٌ: اسْمٌ وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ جَاءَ لِمَعْنًى. | Pembagian kalimat itu ada tiga jenis, yaitu Isim, Fi’il, dan Huruf yang memiliki arti. |
| يَعْنِي أَنَّ أَجْزَاءَ الْكَلَامِ الَّتِي لَا يَخْرُجُ عَنْهَا ثَلَاثَةٌ. | Maksudnya, bagian-bagian penyusun sebuah kalimat itu tidak akan keluar dari tiga jenis ini. |
| الْأَوَّلُ: الِاسْمُ، وَهُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي نَفْسِهَا وَلَمْ تَقْتَرِنْ بِزَمَانٍ. | Yang pertama adalah Isim, yaitu kata yang menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dan tidak berkaitan dengan waktu. |
| الثَّاني: الْفِعْلُ، وَهُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي نَفْسِهَا وَاقْتَرَنَتْ بِزَمَانٍ. | Yang kedua adalah Fi’il, yaitu kata yang menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dan berkaitan dengan waktu tertentu. |
| وَالثَّالِثُ الْحَرْفُ وَهُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِي غَيْرِهَا. | Yang ketiga adalah Huruf, yaitu kata yang baru akan menunjukkan artinya secara jelas jika bersambung dengan kata yang lain. |
| مِثَالُ ذَلِكَ هَلْ جَاءَ زَيْدٌ، وَإِعْرَابُهُ هَلْ حَرْفُ اسْتِفْهَامٍ وَجَاءَ فِعْلٌ مَاضٍ مَبْنِيٌّ عَلَى الْفَتْحِ، زَيْدٌ فَاعِلٌ وَالْفَاعِلُ مَرْفُوعٌ، وَعَلَامَةُ رَفْعِهِ ضَمَّةٌ ظَاهِرَةٌ فِي آخِرِهِ. | Contohnya adalah “Hal ja’a Zaidun”; kedudukan katanya adalah “Hal” merupakan Huruf Istifham atau kata tanya, “ja’a” adalah Fi’il Madhi yang harokat akhirnya tetap fathah, dan “Zaidun” adalah Fa’il yang marfu’ dengan tanda dhommah yang jelas di akhirnya. |
| فَالِاسْمُ يُعْرَفُ بِالْخَفْضِ وَالتَّنْوِينِ، وَدُخُولِ الْأَلِفِ وَاللَّامِ عَلَيْهِ. | Maka kata Isim itu bisa kita kenali dengan adanya tanda Al-Khafdh atau kasroh, adanya tanwin, atau masuknya huruf Alif dan Lam di depannya. |
penjelasan:
Kalam dalam ilmu Nahwu harus memenuhi empat syarat utama yaitu Lafadz yang berarti suara dengan huruf hijaiyah, Murakkab yang berarti susunan minimal dua kata, Mufid yang berarti memberikan pemahaman sempurna, dan Bil-Wadh’i yang berarti menggunakan bahasa Arab.
Ilmu Nahwu sendiri sangat penting dipelajari agar kita bisa memahami perubahan harokat di akhir kata sehingga bisa mengerti isi Al-Qur’an dan Hadis dengan benar.
Pembagian kata dalam bahasa Arab hanya terbatas pada tiga jenis saja yaitu Isim yang merupakan kata benda atau nama tanpa waktu, Fi’il yang merupakan kata kerja yang terikat waktu, dan Huruf yang baru memiliki arti lengkap jika digabungkan dengan kata lainnya. Untuk mengenali Isim, kita bisa melihat apakah kata tersebut bisa diakhiri dengan kasroh, memiliki tanwin di ujungnya, atau diawali dengan Alif dan Lam.
Dalam contoh kalimat seperti Qoma Zaidun, kata Qoma disebut Fi’il karena menunjukkan pekerjaan di masa lampau, sedangkan Zaidun disebut Isim karena merupakan nama orang yang bertindak sebagai pelaku atau Fa’il yang memiliki tanda dhommah.
Sumber: https://ketabonline.com/ar/books/26115/read?part=1&page=3&index=3505370