| Kalimat Berbahasa Arab | Artinya |
|---|---|
| وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَوْتُ أَلْفِ عَابِدٍ قَائِمِ اللَّيْلِ صَائِمِ النَّهَارِ أَهْوَنُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ بَصِيرٍ بِحَلَالِ اللهِ وَحَرَامِهِ. | Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: Meninggalnya seribu orang ahli ibadah yang shalat malam terus-menerus dan puasa di siang hari, itu lebih ringan (dosanya/kerugiannya) daripada meninggalnya seorang ulama yang paham betul tentang halal dan haramnya Allah. |
| وَقَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنَ النَّافِلَةِ. | Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu juga berkata: Menuntut ilmu itu lebih utama daripada mengerjakan ibadah sunnah. |
Melalui perkataan Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu, kita diajak untuk memahami betapa besarnya nilai seorang alim atau orang yang berilmu di mata Allah. Meskipun ibadah seperti shalat malam dan puasa adalah amalan yang sangat mulia, namun manfaatnya cenderung bersifat pribadi untuk diri sendiri. Sebaliknya, seorang ulama yang memiliki pemahaman mendalam tentang syariat membawa manfaat bagi seluruh umat manusia melalui bimbingan dan fatwanya.
Kehilangan seorang ahli ibadah memang merupakan sebuah kerugian, namun kehilangan seorang ulama adalah bencana bagi masyarakat. Ketika seorang ulama wafat, maka seolah-olah ada satu cahaya ilmu yang padam dari muka bumi. Tanpa kehadiran mereka, masyarakat akan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang oleh Allah SWT.
Selanjutnya, pernyataan Imam Syafi’i memperkuat urgensi belajar bagi kita semua. Beliau menegaskan bahwa aktivitas menuntut ilmu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan melakukan amalan-amalan sunnah. Hal ini dikarenakan ilmu adalah fondasi dari segala amal. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan ibadah sunnah dengan benar jika kita tidak memiliki dasar ilmu yang kuat tentang tata caranya?
Kita perlu menyadari bahwa ibadah tanpa ilmu sangat rentan terhadap kesalahan, bahkan bisa berujung pada kesia-siaan. Dengan mempelajari ilmu agama, kita sedang membangun benteng untuk menjaga diri dan orang lain dari kesesatan. Oleh karena itu, meluangkan waktu untuk duduk di majelis ilmu atau membaca kitab adalah investasi akhirat yang jauh lebih besar nilainya daripada sekadar mengejar jumlah rakaat shalat sunnah tanpa pemahaman.
Sebagai penutup, mari kita jadikan semangat menuntut ilmu sebagai prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita merasa cukup hanya dengan beribadah secara rutin, namun abai terhadap perkembangan ilmu pengetahuan agama. Dengan ilmu, ibadah kita akan menjadi lebih berkualitas, tertata, dan tentunya sesuai dengan tuntunan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sources: https://shamela.ws/book/9472/9#p1