Cetakan 2023, Halaman 11
| kalimat berbahasa arab | artinya |
| [فَصْلٌ] | |
| [فِي عَدَمِ صِحَّةِ تَأْوِيْلِ مِثْلِ ذَلِكَ القَوْلِ الوُجُوْدِيِّ؛ وَعَدَمِ صِحَّةِ التَّوَقُّفِ فِيْهِ] | [Bab tentang tidak benarnya mengartikan ucapan wahdatul wujud dengan makna lain, dan tidak boleh diam saja atau ragu dalam masalah ini] |
| فَيَكْفِيْكَ هَذَا يَا أَخِي فِي المَعْرِفَةِ الإِيْمَانِيَّةِ مِنَ الكَلِمَاتِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْأَقْوَالِ الْمَعْصُومِيَّةِ مِنَ الدَّلَائِلِ البَيِّنَةِ الوَاضِحَةِ فِي تَغْلِيْظِ مَنْ قَالَ (أَنَا هُوَ، وَهُوَ نَفْسُنَا)، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. | Cukup bagimu wahai saudaraku, untuk memahami iman dengan benar melalui firman Allah dan sabda Nabi yang terjaga dari dosa, sebagai bukti yang sangat jelas tentang beratnya dosa orang yang berkata “Aku adalah Dia (Tuhan), dan Dia adalah diri kita sendiri,” atau kata-kata yang mirip seperti itu. |
| وَفِي الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ كَثِيرٌ مَا يَدُلُّ عَلَى أُلُوهِيَّةِ اللهِ تَعَالَى وَحْدَهُ وَعُبُودِيَّةِ غَيْرِهِ تَعَالَى. | Di dalam Al-Quran dan Hadis ada banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa hanya Allah Ta’ala yang berhak disembah sebagai Tuhan, sedangkan selain Allah hanyalah hamba-Nya. |
| فَإِنْ قِيْلَ: (هَذِهِ الْأَقْوَالُ القَبِيْحَةُ عِنْدَكُمْ، وَالْكَلِمَاتُ [الفَضِيْحَةُ] كَمَا زَعَمْتُمْ؛ لَنَا فِيْهَا تَأْوِيْلٌ. وَمَا كَانَ اعْتِقَادُنَا عَلَى ظَوَاهِرِهَا). | Jika ada yang berkata: “Ucapan-ucapan yang menurut kalian buruk dan memalukan itu punya arti lain (ta’wil) bagi kami, dan keyakinan kami bukan seperti apa yang terdengar secara langsung.” |
| قُلْنَا: (لَا يَجُوْزُ تَأْوِيْلُهَا، وَلَا يَصِحُّ ذَلِكَ بِوَجْهٍ مِنَ الوُجُوْهِ). | Maka kita jawab: “Ucapan itu sama sekali tidak boleh dicari-cari alasan atau artinya yang lain, dan hal itu tidak dibenarkan dari sisi mana pun.” |
| وَهَذِهِ الكَلِمَاتُ الشَّنِيْعَةُ وَالْأَقْوَالُ البَشِيْعَةُ؛ مِنَ الكَلِمَاتِ الكُفْرِيَّاتِ، وَالْأَقْوَالِ الغَيْرِ الْمَرْضِيَّاتِ فِي الظَّاهِرِ وَالبَاطِنِ. | Kata-kata yang jahat dan ucapan yang menjijikkan ini termasuk kalimat kekufuran dan ucapan yang tidak diridhai, baik secara terang-terangan maupun di dalam hati. |
| أَمَا فَهِمْتَ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ﴾. | Apakah kamu tidak paham firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam.” |
| وَمَا قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ اعْتَقَدُوا أَنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ بْنُ مَرْيَمَ). | Allah tidak berfirman: “Sungguh telah kafir orang yang meyakini di dalam hatinya bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam,” melainkan Allah menyebut mereka kafir hanya karena ucapan mereka. |
| وَمَنْطُوْقُ القُرْآنِ الشَّرِيْفِ وَالفُرْقَانِ اللَّطِيْفِ يَكُوْنُ بِمُجَرَّدِ مَا يَتَلَفَّظُ بِهِ الإِنْسَانُ مِثْلَ هَذِهِ الْأَقْوَالِ المَذْكُورَةِ وَالْكَلِمَاتِ المَزْبُورَةِ. | Bunyi teks Al-Quran yang mulia dan pembeda yang lembut ini menunjukkan bahwa hukum itu berlaku hanya dengan manusia mengucapkan kata-kata dan ucapan yang telah disebutkan tadi. |
| وَمَا صَدَرَتْ مِنْهُ يَكْفُرُ القَائِلُ. | Dan apa pun ucapan seperti itu yang keluar dari mulutnya, maka si pembicara tersebut menjadi kafir. |
| وَكَذَا الْمُصَدِّقُ فِيْهَا بِسَبَبِ ثُبُوتِ اعْتِقَادِهِ فِيْهَا، وَأَنَّهُ مُؤْذِنٌ لِتَكْذِيْبِ اللهِ، وَتَكْذِيْبِ كَلَامِهِ تَعَالَى، وَعَدَمِ تَصْحِيْحِهِ لِكَلَامِهِ تَعَالَى، وَتَصْحِيْحِهِ. | Begitu juga orang yang membenarkan ucapan tersebut, karena ia sudah punya keyakinan yang menetap padanya, dan hal itu menandakan bahwa dia telah menganggap Allah bohong, menganggap firman Allah Ta’ala bohong, serta tidak membenarkan perkataan Allah Ta’ala. |
penjelasan:
Bagian ini menjelaskan bahwa kita tidak boleh sembarangan memberikan arti lain atau ta’wil terhadap ucapan-ucapan yang menyamakan manusia dengan Tuhan, seperti dalam paham wahdatul wujud. Penulis menegaskan bahwa dalam agama Islam, hanya Allah Ta’ala yang merupakan Tuhan dan selain-Nya adalah hamba. Jika ada orang yang berkata bahwa dirinya adalah Tuhan atau Tuhan adalah dirinya, maka ucapan itu sudah termasuk kekufuran yang sangat berat. Al-Quran telah memberi contoh pada kaum terdahulu yang menyebut Nabi Isa atau Al-Masih sebagai Tuhan, di mana Allah langsung menghukumi mereka kafir hanya karena ucapan tersebut, tanpa melihat apakah hati mereka berbeda atau tidak. Jadi, sekadar mengucapkan atau membenarkan kata-kata yang menyimpang itu sudah cukup untuk membuat seseorang keluar dari iman karena itu sama saja dengan mendustakan kebenaran Al-Quran yang sudah sangat jelas.