Berikut adalah pembahasan tentang hadis nomor 12699, dari kitab Fiqh Puasa Syiah yang dimuat di kitab Wasa’il al-Shia, sebuah kumpulan hadis penting dalam tradisi Ahlul Bait yang disusun oleh Syekh Al-Hurr al-Amili jilid sepuluh bagian bab kewajiban puasa.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
|---|---|
|
[١٢٦٩٩] ٣ – وَبِإِسْنَادِهِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِنَانٍ ، عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الرِّضَا (عَلَيْهِ السَّلَامُ) فِيمَا كَتَبَ إِلَيْهِ مِنْ جَوَابِ مَسَائِلِهِ |
Melalui sanadnya dari Muhammad bin Sinan, dari Imam Ali ar-Ridha dalam surat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. |
| عِلَّةُ الصَّوْمِ لِعِرْفَانِ مَسِّ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ | Alasan puasa adalah supaya kita benar-benar mengerti rasanya lapar dan haus. |
| لِيَكُونَ الْعَبْدُ ذَلِيلًا مُسْتَكِينًا مَأْجُورًا مُحْتَسِبًا صَابِرًا | Supaya seorang hamba jadi rendah hati, tenang, dapat pahala, tulus, dan penyabar. |
| وَيَكُونَ ذَلِكَ دَلِيلًا لَهُ عَلَى شَدَائِدِ الْآخِرَةِ | Dan hal itu menjadi pengingat bagi hamba tersebut tentang betapa beratnya hari kiamat nanti. |
| مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الِانْكِسَارِ لَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ | Sekaligus puasa itu membantu kita untuk bisa mengendalikan keinginan-keinginan buruk atau nafsu. |
| وَوَاعِظًا لَهُ فِي الْعَاجِلِ ، دَلِيلًا عَلَى الْآجِلِ | Puasa menjadi nasihat untuk hidup kita sekarang dan jadi petunjuk untuk masa depan kita nanti. |
| لِيَعْلَمَ شِدَّةَ مَبْلَغِ ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الْفَقْرِ وَالْمَسْكَنَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ | Agar kita tahu betapa beratnya perjuangan orang-orang miskin dan yang kekurangan di dunia maupun di akhirat. |
penjelasan:
Hadis nomor 12699 ini menceritakan tentang alasan indah kenapa Allah mewajibkan kita untuk berpuasa. Imam Ali ar-Ridha menjelaskan bahwa dengan merasakan lapar dan haus, hati kita tidak akan menjadi keras atau sombong. Puasa mendidik kita untuk menjadi orang yang lebih tenang, sabar, dan selalu merasa butuh kepada pertolongan Allah karena kita sadar bahwa tanpa makan dan minum kita hanyalah makhluk yang lemah.
Selain untuk melatih hati, puasa juga menjadi pengingat yang sangat kuat tentang hari kiamat. Rasa haus dan lapar yang kita rasakan sekarang hanyalah sedikit gambaran dari kesulitan yang akan terjadi nanti, sehingga kita jadi lebih rajin beribadah. Puasa juga berfungsi sebagai “rem” otomatis agar kita tidak mudah mengikuti keinginan-keinginan nakal yang hanya memuaskan nafsu sesaat.
Tujuan paling mulia dari puasa adalah agar kita memiliki rasa peduli yang dalam kepada sesama. Kalau kita tidak pernah merasa lapar, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar mengerti susahnya hidup orang miskin. Dengan merasakan lapar yang sama, kita jadi tahu betapa berat beban hidup mereka dan hati kita pun tergerak untuk saling membantu dan berbagi rezeki.
Perbandingan dengan Mazhab Sunni
- Mazhab Hanafi: Ulama Hanafi berpendapat bahwa puasa adalah cara terbaik untuk membersihkan jiwa dari kotoran nafsu yang sering mengganggu manusia. Nama kitab: Al-Mabsut, penulis: As-Sarakhsi, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1993, halaman: 54.
- Mazhab Maliki: Mazhab ini menekankan bahwa puasa melatih kekuatan tekad dan kesabaran fisik agar manusia terbiasa menghadapi kesulitan. Nama kitab: Al-Mudawwanah al-Kubra, penulis: Imam Malik, nama penerbit: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tahun terbit: 1994, halaman: 176.
- Mazhab Syafi’i: Puasa dianggap sebagai tameng agar hati seseorang menjadi lebih lembut dan lebih mudah menerima ilmu serta nasihat agama. Nama kitab: Al-Umm, penulis: Imam asy-Syafi’i, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1990, halaman: 78.
- Mazhab Hanbali: Puasa dipandang sebagai ibadah utama untuk mencapai kesucian batin dan bentuk ketaatan total kepada perintah Tuhan. Nama kitab: Al-Mughni, penulis: Ibnu Qudamah, nama penerbit: Dar al-Manar, tahun terbit: 1985, halaman: 102.