Berikut adalah pembahasan tentang hadis nomor 12700, dari kitab Fiqh Puasa Syiah yang dimuat di kitab Wasa’il al-Shia, sebuah kumpulan hadis penting dalam tradisi Ahlul Bait yang disusun oleh Syekh Al-Hurr al-Amili jilid sepuluh bagian bab kewajiban puasa.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
|---|---|
| وَبِإِسْنَادِهِ عَنْ حَمْزَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ ، أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُحَمَّدٍ (عَلَيْهِ السَّلَامُ) : لِمَ فَرَضَ اللهُ الصَّوْمَ ؟ | Dan dengan sanadnya dari Hamzah bin Muhammad, bahwa dia menulis surat kepada Abu Muhammad (Imam Hasan al-Askari) bertanya: Mengapa Allah mewajibkan puasa? |
| فَوَرَدَ فِي الْجَوَابِ : لِيَجِدَ الْغَنِيُّ مَسَّ الْجُوعِ فَيَحْنُوَ عَلَى الْفَقِيرِ | Maka datanglah jawaban: Agar orang kaya merasakan perihnya lapar sehingga dia menaruh belas kasihan kepada orang miskin. |
penjelasan:
Hadis nomor 12700 ini bercerita tentang rasa sayang yang muncul lewat puasa. Imam mengajarkan bahwa alasan Allah menyuruh kita berpuasa adalah supaya orang-orang yang punya banyak harta bisa tahu rasanya tidak punya makanan. Saat perut terasa lapar, hati orang kaya akan tergerak untuk lebih peduli dan memperhatikan nasib teman-teman kita yang hidupnya serba kekurangan.
Tanpa puasa, mungkin orang kaya sulit membayangkan betapa susahnya mencari makan setiap hari. Dengan menahan lapar dari pagi sampai sore, mereka jadi belajar bahwa rasa lapar itu sangat tidak enak dan menyakitkan. Pengalaman nyata ini membuat mereka ingin segera membantu dan berbagi apa yang mereka miliki kepada orang lain yang membutuhkan bantuan.
Jadi, puasa adalah cara Allah untuk mendidik sifat pemurah di dalam diri manusia. Allah ingin agar semua hamba-Nya saling mencintai dan tidak membiarkan satu sama lain menderita sendirian. Lewat rasa lapar yang sama, tali persaudaraan antara si kaya dan si miskin akan menjadi semakin erat karena adanya rasa saling mengerti.
Perbandingan dengan Mazhab Sunni
- Mazhab Hanafi: Mazhab ini menjelaskan bahwa puasa adalah cara untuk melemahkan kekuatan syahwat yang sering kali mengajak manusia berbuat buruk. Dengan berkurangnya asupan makanan, jiwa menjadi lebih patuh kepada perintah Allah dan lebih mudah menjauhi kemaksiatan. Nama kitab: Al-Mabsut, penulis: As-Sarakhsi, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1993, halaman: 54.
- Mazhab Maliki: Ulama dalam mazhab ini menekankan bahwa puasa merupakan latihan kesabaran dan kejujuran seorang hamba secara langsung kepada Penciptanya. Puasa dipandang sebagai perisai yang sangat kuat untuk melindungi diri dari godaan duniawi yang berlebihan. Nama kitab: Al-Mudawwanah al-Kubra, penulis: Imam Malik, nama penerbit: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tahun terbit: 1994, halaman: 176.
- Mazhab Syafi’i: Mazhab ini memandang puasa sebagai sarana untuk membersihkan hati dari sifat keras dan sombong yang timbul akibat terlalu banyak kenyang. Dengan perut yang kosong, seseorang akan lebih mudah menerima hidayah dan memiliki kepekaan sosial yang lebih tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Nama kitab: Al-Umm, penulis: Imam asy-Syafi’i, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1990, halaman: 78.
- Mazhab Hanbali: Pandangan dalam mazhab ini melihat puasa sebagai jalan utama untuk mencapai derajat ketakwaan yang sejati. Rasa lapar yang dialami selama berpuasa menjadi pengingat abadi akan nikmat Allah yang selama ini sering dianggap remeh saat sedang berkecukupan. Nama kitab: Al-Mughni, penulis: Ibnu Qudamah, nama penerbit: Dar al-Manar, tahun terbit: 1985, halaman: 102.