Berikut adalah pembahasan tentang hadis nomor 12703, dari kitab Fiqh Puasa Syiah yang dimuat di kitab Wasa’il al-Shia, sebuah kumpulan hadis penting dalam tradisi Ahlul Bait yang disusun oleh Syekh Al-Hurr al-Amili jilid sepuluh bagian bab kewajiban puasa.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
|---|---|
| وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى، عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ، وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانَ جَمِيعاً، عَنْ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَجَّاجِ، عَنْ أَبِي الْحَسَنِ (عَلَيْهِ السَّلَامُ). | Diriwayatkan dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Muhammad, dan dari Muhammad bin Ismail, dari al-Fadl bin Shadhan semuanya, dari Ibnu Abi Umair, dari Abdurrahman bin al-Hajjaj, dari Abu al-Hasan (Imam Musa al-Kadzim). |
| فِي الرَّجُلِ يَبْدُو لَهُ – بَعْدَ مَا يُصْبِحُ وَيَرْتَفِعُ النَّهَارُ – فِي صَوْمِ ذَلِكَ الْيَوْمِ لِيَقْضِيَهُ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَلَمْ يَكُنْ نَوَى ذَلِكَ مِنَ اللَّيْلِ. | Tentang seseorang yang baru terpikir—setelah pagi hari dan matahari sudah naik—untuk berpuasa pada hari itu sebagai ganti atau qadha puasa bulan Ramadhan, padahal ia belum berniat di malam harinya. |
| قَالَ: نَعَمْ، لِيَصُمْهُ وَلِيَعْتَدَّ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ أَحْدَثَ شَيْئاً. | Imam menjawab: Iya, silakan dia berpuasa dan puasanya itu dianggap sah asalkan dia belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa. |
penjelasan:
Hadis nomor 12703 ini menjelaskan tentang kemudahan bagi orang yang ingin membayar hutang puasa Ramadhan atau yang biasa disebut puasa qadha. Imam menjelaskan bahwa seseorang boleh mendadak niat puasa qadha di siang hari meskipun matahari sudah naik tinggi. Ini sangat membantu bagi orang yang mungkin baru ingat punya hutang puasa atau baru memiliki niat kuat untuk berpuasa saat hari sudah berjalan.
Aturan penting yang harus diingat adalah orang tersebut tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak waktu subuh sampai saat ia berniat di siang hari itu. Jadi, kalau dari pagi dia belum makan, belum minum, dan belum melakukan larangan puasa lainnya, maka niatnya yang muncul belakangan itu tetap diterima oleh Allah. Puasanya pun dihitung sebagai satu hari penuh yang sah untuk mengganti hutang puasanya yang lama.
Pelajaran dari hadis ini adalah Allah sangat sayang dan tidak ingin mempersulit hamba-Nya dalam beribadah. Meskipun niat idealnya dilakukan di malam hari, kelonggaran sampai siang hari ini memberikan kesempatan bagi kita untuk tetap rajin menjalankan kewajiban agama. Selama kita menjaga diri dari hal yang membatalkan sejak pagi, kesempatan untuk melakukan puasa qadha masih terbuka lebar bagi siapa saja.
Perbandingan dengan Mazhab Sunni
- Mazhab Hanafi Mazhab ini membolehkan niat puasa Ramadhan dilakukan di siang hari, namun untuk puasa qadha atau mengganti puasa, niatnya tetap harus dilakukan pada malam hari sebelum subuh. Jika seseorang berniat qadha di siang hari, maka puasa qadhanya tidak dianggap sah menurut hukum mereka. Nama kitab: Badai’ ash-Sanai’, penulis: Al-Kasani, nama penerbit: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tahun terbit: 1986, jilid 2, halaman: 73.
- Mazhab Maliki Dalam mazhab ini, semua jenis puasa wajib termasuk puasa qadha Ramadhan harus memiliki niat yang dilakukan di malam hari sebelum fajar tiba. Niat yang dilakukan setelah fajar atau di siang hari tidak sah untuk puasa wajib karena puasa dianggap sebagai ibadah satu hari penuh yang niatnya tidak boleh terlambat. Nama kitab: Al-Mudawwanah al-Kubra, penulis: Imam Malik, nama penerbit: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tahun terbit: 1994, jilid 1, halaman: 188.
- Mazhab Syafi’i Mazhab ini berpendapat bahwa puasa qadha Ramadhan adalah puasa wajib, sehingga niatnya wajib dilakukan di malam hari sebelum masuk waktu subuh. Ketentuan niat di siang hari hanya berlaku untuk puasa sunnah saja, sedangkan untuk membayar hutang puasa niatnya harus sudah ada sejak malam hari. Nama kitab: Al-Majmu’ Sharh al-Muhadhdhab, penulis: An-Nawawi, nama penerbit: Dar al-Fikr, tahun terbit: 1997, jilid 6, halaman: 248.
- Mazhab Hanbali Ulama Hanbali menegaskan bahwa niat untuk puasa wajib seperti qadha Ramadhan tidak boleh dilakukan di siang hari dan harus sudah ada sejak malam hari sebelum fajar. Jika seseorang berniat setelah subuh untuk puasa qadha, maka hari tersebut tidak bisa dihitung sebagai pengganti hutang puasanya yang sah. Nama kitab: Al-Mughni, penulis: Ibnu Qudamah, nama penerbit: Dar al-Manar, tahun terbit: 1985, jilid 3, halaman: 109.