Skip to content

surauEMKA

مَا زِلتَ طالبًا

Menu
  • Home
  • Pendidikan
  • Ke-NU-an
  • Bahtsul Masail
  • PKB
  • Kitab Kuning
    • Ihya Ulumiddin
    • Nashoihul Ibad
    • Idhotun Nasyiin
    • Jurumiyah
    • Alala
    • Akhlaq lil Banin
Menu

Apa Hukum Membuang Sampah Plastik Sembarangan dalam Islam?

Posted on April 24, 2024December 4, 2025 by syauqi wiryahasana

Sampah plastik adalah salah satu penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim dunia. Ini adalah masalah serius yang harus kita hadapi bersama, karena plastik tidak dapat terurai dengan sendirinya dan menumpuk di lingkungan, mencemari laut dan tanah.

Di Indonesia, sekitar 64 juta ton sampah plastik diproduksi setiap tahunnya, dengan hanya sekitar 10% yang didaur ulang. Sisanya mencemari lingkungan, membahayakan hewan dan manusia, serta merusak ekosistem.

Sampah plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menciptakan ancaman kesehatan bagi manusia. Ketika ikan memakan plastik, lalu kita memakan ikan tersebut, secara tidak langsung kita juga menjadi pemakan plastik, yang tentunya membahayakan kesehatan kita.

Dampak buruk sampah plastik juga terasa dalam kontribusinya terhadap pemanasan global. Proses produksi plastik menghasilkan emisi gas rumah kaca, sedangkan pembakarannya menghasilkan gas beracun. Sampah plastik yang terurai menjadi mikroplastik juga mencemari tanah dan air, masuk ke dalam rantai makanan, dan membahayakan hewan dan manusia.

Kita sebagai individu memiliki peran penting dalam memerangi masalah ini. Salah satu tindakan sederhana yang dapat kita lakukan adalah menghindari membuang sampah plastik sembarangan. Kebiasaan praktis menggunakan plastik saat berbelanja harus kita ganti dengan membawa tas belanja sendiri.

Pentingnya masalah ini telah diakui oleh Nahdlatul Ulama (NU) melalui fatwa yang dikeluarkan oleh Lembaga Bahtsul Masail PBNU dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI). Mereka menyatakan bahwa membuang sampah plastik sembarangan hukumnya haram.

Fatwa ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, sampah plastik dapat membahayakan kesehatan manusia dan hewan karena mencemari air dan tanah. Kedua, sampah plastik dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, menyumbat saluran air, menyebabkan banjir, dan merusak ekosistem laut.

Dalam Islam, tindakan membuang sampah plastik sembarangan tidak hanya dianggap sebagai perbuatan yang merugikan lingkungan, tetapi juga sebagai tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Allah SWT telah melarang kita untuk merusak bumi setelah Dia menciptakannya dengan sempurna.

Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, sudah selayaknya kita menjaga lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang dapat merusaknya. Islam mengajarkan kepada kita untuk bertanggung jawab atas tindakan kita dan menghindari perbuatan yang dapat membahayakan orang lain dan alam.

Hukum Islam menegaskan bahwa mencemari lingkungan adalah perbuatan haram dan merupakan tindakan kriminal. Islam juga menekankan pentingnya tanggung jawab atas tindakan yang membahayakan orang lain dan lingkungan.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk memahami dan mengambil tindakan sesuai dengan ajaran Islam dalam menjaga lingkungan. Kita harus menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari membuang sampah plastik sembarangan sebagai bagian dari kewajiban kita sebagai umat Islam.

Ibaroh

kitab  al-Mawahib al-Saniyah Syarh al-Fawa’id al-Bahiyah, halaman 114 berikut;

عِبَارَةٌ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ وَالْمَعْنَى لَا يُبَاحُ إِدْخَالُ الصِّرَارِ عَلَى إِنْسَانٍ فِيْمَا تَحْتَ يَدِهِ مِنْ مِلْكٍ وَمَنْفَعَةٍ غَالِبًا وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يُضِرَّ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya; “Frasa ‘La dharara wa la dhirar’ memiliki makna bahwa tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang merugikan pada seseorang yang berada dalam kekuasaannya, baik berupa kepemilikan dan manfaat yang dimilikinya. Tidak dibolehkan bagi siapapun untuk merugikan saudaranya sesama Muslim.”

Kitab Asna al-Mathalib Syarh Raudlatu al-Thalibin:

قَالَ الْغَرَالِي فِي الْإِحْيَاءِ لَوْ اغْتَسَلَ فِي الْحَمَّامِ وَتَرَكَ الصَّابُونَ وَالسِّدْرَ الْمُزْلِقَيْنِ بِأَرْضِ الْحَمَّامِ فَزَلَقَ بِهِ إِنْسَانٌ فَتَلِفَ أَوْ تَلِفَ مِنْهُ عُضْوٌ ، وَكَانَ في مَوْضِعِ لَا يَظْهَرُ بِحَيْثُ يَتَعَذَّرُ الاحْتِرَازُ مِنْهُ فَالضَّمَانُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ النَّارِكِ وَالْحَمَّامِي 

Artinya; “Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ulumiddin berpendapat, jika seseorang mandi di kamar mandi dan meninggalkan bekas sabun yang menyebabkan licinnya lantai. Hal ini kemudian menyebabkan orang lain tergelincir dan mati atau anggota tubuhnya cedera. Meskipun bekas sabun tersebut tidak terlihat, maka tanggung jawab atas akibatnya dibebankan kepada orang yang meninggalkan bekas sabun tersebut serta penjaga kamar mandi, mengingat penjaga memiliki kewajiban untuk membersihkannya”. [Syekh Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudlatu al-Thalibin, juz XIX, halaman 140].

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa membuang sampah plastik sembarangan dalam Islam hukumnya haram. Tindakan ini tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya menjaga alam dan kesejahteraan manusia.

Sebagai umat Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang merusaknya. Islam mengajarkan kepada kita untuk bertanggung jawab atas tindakan kita dan menghindari perbuatan yang dapat membahayakan orang lain dan alam.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengubah perilaku kita dan menghindari membuang sampah plastik sembarangan. Kita harus berusaha untuk menggunakan alternatif ramah lingkungan dan mendukung upaya-upaya dalam menjaga kelestarian alam.

Dengan mengambil tindakan ini, kita dapat memenuhi tuntutan agama dan juga turut berkontribusi dalam menjaga lingkungan bagi generasi yang akan datang. Semoga dengan kesadaran dan kepedulian kita, kita dapat menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan untuk semua makhluk hidup.

Disadur dari NU Online

Recent Posts

  • Fiqh Puasa Syiah – Kelonggaran Dalam Niat Puasa
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 44 – Keutamaan Menyampaikan Kebaikan
  • Fiqh Puasa Syiah – Niat Puasa Tetap Sah Meski Siang Hari
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 43 – Keutamaan Ilmu Dibanding Menyampaikan Sebuah Hadis yang Baik
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 42 – Keutamaan Mendoakan Pengajar Kebaikan
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 41 – Keutamaan Mengingat Allah dan Menuntut Ilmu di Dunia
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 40 – Keutamaan Berbagi Ilmu dan Hikmah kepada Sesama Muslim
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 39 – Bahaya Menyembunyikan Ilmu Agama
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 38 – Cara Allah Mencabut Ilmu dari Dunia
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 37 – Keutamaan Ilmu yang Bermanfaat bagi Orang Lain
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 36 – Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Mengamalkannya
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 35 – Keutamaan Dakwah dan Mengajak kepada Jalan Allah
  • Terjemah Kitab Fathul Qarib Sholat Jumat (Part 10): Adab Masuk Masjid Saat Imam Sedang Khutbah Jumat
  • Terjemah Kitab Fathul Qarib Sholat Jumat (Part 9): Adab Mendengarkan Khutbah dan Pengecualiannya
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 34 – Kewajiban Menyampaikan Ilmu dan Larangan Menyembunyikannya
  • Running Windows 11 on Apple Silicon: UTM vs. Parallels Desktop vs. VMware Fusion
  • Testing PikaOS, a Rolling Debian Distribution Special for Gaming and Content Creation
  • Engineering the On-Premises AI Data Center: An In-Depth Technical Review of the HP ZGX Fury AI Station
  • Trying my new Favourite Task Manager, TMOG on Omarchy Linux
  • ASRock Industrial AI Box A395: Is This the Best Compact Strix Halo System for Local AI?
  • Redox OS: A Rust-Based Microkernel Operating System (And How It Differs from Linux)
  • Canonical Is Bringing Back Ubuntu Core Desktop — This Time With a Clearer Plan
  • systemd Officially Adds Support for Rust Components
  • Rocky Linux Creator Builds a Brand-New “Not Linux” Kernel in 11 Days Using AI
  • Building a local AI agent in Workshop on Ubuntu 26.10
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • How to Hardening Journald on Linux Server (Fedora/AlmaLinux)
  • Block Bad USB on Linux Server with USBGuard
  • How to Secure NetworkManager on Fedora/AlmaLinux
  • How to Secure DNS and NTP in Fedora Linux
  • How to Hardening DNF on Fedora/Almalinux
  • Some of New Gemini Notebook Update is CRAZY GOOD: Native Mobile Recording
  • Clover 35B A3B Local Test | Diffusion Model Beats Qwen 35B MoE? | Local AI Setup with llama.cpp
  • The no-code app implementation plan in 2026
  • Liquid AI Unveils LFM3: A New Generation of Multimodal Foundation Models Built Small Device
  • Google DeepMind Unveils Genie 4: The Most Advanced Real-Time Interactive World Model Yet
  • Building Long-Running AI Agents with Pi Durable: An AI SRE Agent Example
  • Prompt AI: Impressionist Portrait Art of a Woman
  • Prompt AI: Stylish Man Walking Double Exposure Photo
  • Trying Nemotron 3.5 Super VL: NVIDIA’s Open Multimodal Model Built for Agents That Actually See and Act
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
RSS Error: WP HTTP Error: A valid URL was not provided.

Categories

  • Akhlaq lil Banin
  • Alala
  • Alfiyah Ibnu Malik
  • Apple
  • Bahtsul Masail
  • Bughyatul Mustarsyidin
  • Cerita
  • Download
  • Fathul Qarib
  • Fiqh Syiah
  • Gusdur
  • Idhotun Nasyiin
  • Ihya Ulumiddin
  • Ilmu Umum
  • Jurumiyah
  • Ke-NU-an
  • Kitab Kuning Politik
  • Linux
  • Nashoihul Ibad
  • Pendidikan
  • PKB
  • Review
  • Tokoh
  • Tsaquful Akhyarin Nahdliyah
  • Tutorial
  • Uncategorized
©2026 surauEMKA | Design: Newspaperly WordPress Theme