Skip to content

surauEMKA

مَا زِلتَ طالبًا

Menu
  • Home
  • Pendidikan
  • Ke-NU-an
  • Bahtsul Masail
  • PKB
  • Kitab Kuning
    • Ihya Ulumiddin
    • Nashoihul Ibad
    • Idhotun Nasyiin
    • Jurumiyah
    • Alala
    • Akhlaq lil Banin
Menu

Hukum Puasa bagi Sopir Bus & Sopir Truk Antarkota

Posted on April 4, 2024 by Manarul Ikhsan

Doa Orang yang Diperbolehkan Tidak Berpuasa Ramadan

Dalam ajaran Islam, terdapat dua alasan yang membolehkan seseorang untuk tidak melaksanakan puasa Ramadan, yaitu ketika seseorang sakit dan ketika sedang dalam perjalanan atau musafir. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 184:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ

“Barangsiapa di antara kamu sakit atau sedang dalam perjalanan (dan tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqarah: 184).

Dari ayat tersebut, dapat dipahami bahwa orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan diperbolehkan untuk tidak berpuasa, namun mereka tetap wajib menggantinya pada hari lain.

Para ulama menjelaskan bahwa untuk seorang musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan, agar diperbolehkan untuk tidak berpuasa atau membatalkan puasanya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu perjalanan yang cukup panjang (minimal dua marhalah atau sekitar 83 km) dan perjalanan tersebut diperbolehkan menurut syariat Islam.

Dalam konteks ini, tidak diperkenankan untuk membatalkan puasa jika perjalanan tersebut singkat atau tidak mencapai jarak minimal yang ditentukan, karena tidak ada alasan syar’i yang memperbolehkannya. Begitu juga, tidak diperbolehkan bagi seseorang yang melakukan perjalanan dengan melakukan maksiat, karena keringanan tidak diberlakukan dalam konteks perbuatan dosa.

Adapabila seseorang yang pada pagi harinya berstatus mukim kemudian melakukan perjalanan, ia tidak diperbolehkan untuk membatalkan puasanya. Hal ini karena ibadah puasa mencakup status mukim dan musafir, dan dalam hal ini yang harus diprioritaskan adalah status mukimnya.

Syarat Musafir Boleh Tidak Berpuasa Ramadan

Secara ringkas, terdapat tiga syarat yang harus dipenuhi agar seorang musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa Ramadan:

  1. Perjalanan harus cukup panjang, minimal dua marhalah atau sekitar 83 km.
  2. Perjalanan tersebut tidak dilarang oleh syariat Islam.
  3. Seseorang telah berstatus sebagai musafir sebelum fajar.

Puasa Bagi Sopir Bus Antarkota

Bagi seorang sopir bus antarkota, jika ia telah memenuhi ketiga syarat di atas, maka ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa, namun wajib menggantinya di lain waktu. Namun, penting untuk diingat bahwa kebolehan ini bukan berarti lebih baik. Dalam keadaan yang sehat dan normal, tetap berpuasa bagi seorang musafir adalah yang paling utama.

Syekh Nawawi Banten menjelaskan bahwa kebolehan untuk tidak berpuasa bagi musafir adalah lebih utama daripada membatalkan puasa, asalkan tidak memberatkan. Namun, jika berpuasa memberatkan atau mengancam kesehatan, maka lebih utama untuk membatalkan puasa. Dalam hal ini, jika seseorang nekat untuk berpuasa dan menghadapi risiko kehilangan fungsi tubuh, maka ia wajib untuk berbuka, namun tidak perlu mengqadha puasa.

Kesimpulan Hukum

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bagi seorang sopir bus antarkota yang selalu dalam perjalanan, menurut pendapat fiqih yang kuat, tidak diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Hal ini karena konsekuensinya akan menggugurkan kewajiban puasa secara keseluruhan. Meskipun demikian, menurut pendapat Imam Ibnu Hajar, seorang sopir tersebut diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Namun, perlu dipahami bahwa kebolehan ini tidak menghapuskan kewajiban puasa, namun harus diganti di hari-hari lain yang memungkinkan. Oleh karena itu, penting bagi sopir bus antarkota untuk memahami dan mengikuti ketentuan agama dengan bijaksana.

Ibaroh:

وَأما الْمُسَافِر فَشرط الْإِبَاحَة لَهُ أَن يكون سَفَره طَويلا مُبَاحا فَلَا يترخص فِي الْقصير لعدم الْمُبِيح وَلَا فِي السّفر بالمعصية لِأَن الرُّخص لَا تناط بِالْمَعَاصِي فَلَو أصبح مُقيما ثمَّ سَافر فَلَا يفْطر لِأَنَّهَا عبَادَة اجْتمع فِيهَا السّفر والحضر فغلبنا الْحَضَر

Artinya, “Adapun musafir maka syarat kebolehannya untuk tidak berpuasa adalah perjalanan yang ditempuh panjang (dua marhalah atau 83 km) dan diperbolehkan syariat. Maka tidak boleh mengambil rukhsah bila perjalanannya pendek (tidak mencapai dua marhalah atau 83 km), karena tidak adanya alasan yang memperbolehkan untuk tidak berpuasa. Tidak diperbolehkan juga untuk mengambil rukhsah seorang yang melakukan perjalanan maksiat, karena rukhsah tidak disangkutkan dengan maksiat. Apabila seseorang pada pagi hari berstatus mukim kemudian melakukan perjalanan, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya, karena itu adalah ibadah yang terhimpun status safar dan mukim, maka yang dimenangkan adalah status mukimnya.” (Taqiyuddin al-Hisni, Kifayatul Akyar, [Bairut, Darkutub Al-Ilmiyah: 2021], halaman 296).

وَالصَّوْمُ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ إِنْ لَمْ يَشُقَّ عَلَيْهِ ِلأَنَّ فِيْهِ بَرَاءَة َلذِّمَّةِ فَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ بِأَنْ لَحِقَهُ مِنْهُ نَحْوُ أَلَمٍ يَشُقُّ احْتِمَالُهُ عَادَةً فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ أَمَّا إذَا خَشِيَ مِنْهُ تَلَفَ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ فَيَجِبُ الْفِطْرُ فَإِنْ صَامَ عَصَى وَأَجْزَأَهُ

Artinya, “Berpuasa bagi musafir lebih utama daripada membatalkan puasa, jika memang ia tidak berat melakukannya. Karena dengan berpuasa ia menjadi terbebas dari tanggungan, yakni, tanggungan puasa.

Sebaliknya, jika ia berat melakukan puasa, misal ia mendapati sakit yang biasanya berat untuk ditahan, maka membatalkan puasa adalah lebih utama daripada berpuasa. Ketika musafir takut kehilangan fungsi anggota tubuh jika ia berpuasa maka ia wajib berbuka, tetapi apabila ia nekat berpuasa maka ia berdosa dan puasanya telah mencukupi, artinya, tidak perlu diqadha.”(Muhammad Nawawi Al-Bantani, Kasyifatu Saja, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyah], halaman 195).

وَيُسْتَثْنَى مِنْ جَوَازِ الْفِطْرِ بِالسَّفَرِ: مُدِيْمُ السَّفَرِ، فَلَا يُبَاحُ لَهُ الْفِطْرُ، لِأَنَّهُ يُؤَدِّى اِلَى اِسْقَاطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلِّيَةِ

Artinya, “Dikeculiakan dari kebolehan membatalkan puasa sebab dalam perjalanan adalah orang yang terus menerus bepergian, ia tidak diperkenankan untuk tidak berpuasa, karena hal ini akan mengakibatkan gugurnya kewajiban secara keseluruhan. “ (Sayyid Al-Bakri, I’anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tt], juz II, halaman 267).

ومحل جواز الفطر للمسافر إذا رجا إقامة يقضي فيها وإلا بأن كان مديماً له ولم يرج ذلك فلا يجوز له الفطر على المعتمد لأدائه إلى إسقاط الوجوب بالكلية. وقال ابن حجر بالجواز وفائدته فيما إذا أفطر في الأيام الطويلة أن يقضيه في أيام أقصر منها انتهى من الشرقاوي والزيادي

Artinya, “Kebolehan tidak berpuasa bagi musafir adalah ketika ia ada harapan akan bermukim di tempat tertentu untuk ia mengqadha puasanya. Jika tidak demikian, misalnya musafir selalu melakukan perjalanan dan tidak dimungkinkan baginya bermukim, maka ia tidak boleh tidak berpuasa, sebagaimana yang dinyatakan oleh pendapat mu’tamad, karena hal itu itu dapat menggugurkan kewajibannya secara keseluruhan.

Disadur dari tulisan Kyai Muhamad Hanif Rahman, NU Online

Recent Posts

  • Fiqh Puasa Syiah – Kelonggaran Dalam Niat Puasa
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 44 – Keutamaan Menyampaikan Kebaikan
  • Fiqh Puasa Syiah – Niat Puasa Tetap Sah Meski Siang Hari
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 43 – Keutamaan Ilmu Dibanding Menyampaikan Sebuah Hadis yang Baik
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 42 – Keutamaan Mendoakan Pengajar Kebaikan
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 41 – Keutamaan Mengingat Allah dan Menuntut Ilmu di Dunia
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 40 – Keutamaan Berbagi Ilmu dan Hikmah kepada Sesama Muslim
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 39 – Bahaya Menyembunyikan Ilmu Agama
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 38 – Cara Allah Mencabut Ilmu dari Dunia
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 37 – Keutamaan Ilmu yang Bermanfaat bagi Orang Lain
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 36 – Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Mengamalkannya
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 35 – Keutamaan Dakwah dan Mengajak kepada Jalan Allah
  • Terjemah Kitab Fathul Qarib Sholat Jumat (Part 10): Adab Masuk Masjid Saat Imam Sedang Khutbah Jumat
  • Terjemah Kitab Fathul Qarib Sholat Jumat (Part 9): Adab Mendengarkan Khutbah dan Pengecualiannya
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 34 – Kewajiban Menyampaikan Ilmu dan Larangan Menyembunyikannya
  • Running Windows 11 on Apple Silicon: UTM vs. Parallels Desktop vs. VMware Fusion
  • Testing PikaOS, a Rolling Debian Distribution Special for Gaming and Content Creation
  • Engineering the On-Premises AI Data Center: An In-Depth Technical Review of the HP ZGX Fury AI Station
  • Trying my new Favourite Task Manager, TMOG on Omarchy Linux
  • ASRock Industrial AI Box A395: Is This the Best Compact Strix Halo System for Local AI?
  • Redox OS: A Rust-Based Microkernel Operating System (And How It Differs from Linux)
  • Canonical Is Bringing Back Ubuntu Core Desktop — This Time With a Clearer Plan
  • systemd Officially Adds Support for Rust Components
  • Rocky Linux Creator Builds a Brand-New “Not Linux” Kernel in 11 Days Using AI
  • Building a local AI agent in Workshop on Ubuntu 26.10
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • How to Hardening Journald on Linux Server (Fedora/AlmaLinux)
  • Block Bad USB on Linux Server with USBGuard
  • How to Secure NetworkManager on Fedora/AlmaLinux
  • How to Secure DNS and NTP in Fedora Linux
  • How to Hardening DNF on Fedora/Almalinux
  • Some of New Gemini Notebook Update is CRAZY GOOD: Native Mobile Recording
  • Clover 35B A3B Local Test | Diffusion Model Beats Qwen 35B MoE? | Local AI Setup with llama.cpp
  • The no-code app implementation plan in 2026
  • Liquid AI Unveils LFM3: A New Generation of Multimodal Foundation Models Built Small Device
  • Google DeepMind Unveils Genie 4: The Most Advanced Real-Time Interactive World Model Yet
  • Building Long-Running AI Agents with Pi Durable: An AI SRE Agent Example
  • Prompt AI: Impressionist Portrait Art of a Woman
  • Prompt AI: Stylish Man Walking Double Exposure Photo
  • Trying Nemotron 3.5 Super VL: NVIDIA’s Open Multimodal Model Built for Agents That Actually See and Act
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
RSS Error: WP HTTP Error: A valid URL was not provided.

Categories

  • Akhlaq lil Banin
  • Alala
  • Alfiyah Ibnu Malik
  • Apple
  • Bahtsul Masail
  • Bughyatul Mustarsyidin
  • Cerita
  • Download
  • Fathul Qarib
  • Fiqh Syiah
  • Gusdur
  • Idhotun Nasyiin
  • Ihya Ulumiddin
  • Ilmu Umum
  • Jurumiyah
  • Ke-NU-an
  • Kitab Kuning Politik
  • Linux
  • Nashoihul Ibad
  • Pendidikan
  • PKB
  • Review
  • Tokoh
  • Tsaquful Akhyarin Nahdliyah
  • Tutorial
  • Uncategorized
©2026 surauEMKA | Design: Newspaperly WordPress Theme