Terjemah Kitab تفصيل وسائل الشيعة إلى تحصيل مسائل الشريعة (Tafṣīl Wasāʾil al-Shīʿah ilā Taḥṣīl Masāʾil al-Sharīʿah) atau lebih populer dikenal dengan Kitab Wasa’il Syiah, Juz 10, tentang Puasa, hadist nomor 12.697:

| kalimat berbahasa arab | artinya |
| ١ – بَابُ وُجُوْبِهِ وَثُبُوْتِ الْكُفْرِ وَالْاِرْتِدَادِ بِاسْتِحْلَالِ تَرْكِهِ | Bab tentang wajibnya puasa dan bukti bahwa seseorang bisa menjadi kafir atau keluar dari agama kalau dia menganggap boleh meninggalkan puasa. |
| [١٢٦٩٧]
١ – مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ بِإِسْنَادِهِ عَنْ هِشَامِ بْنِ الْحَكَمِ ، أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا عَبْدِ اللهِ ( عَلَيْهِ السَّلَامُ ) عَنْ عِلَّةِ الصِّيَامِ ؟ |
Hadis nomor 12697: Muhammad bin Ali bin al-Husayn bercerita melalui urutan gurunya dari Hisham bin al-Hakam, bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far al-Sadiq) tentang alasan kenapa kita harus berpuasa? |
| فَقَالَ : إِنَّمَا فَرَضَ اللهُ الصِّيَامَ لِيَسْتَوِيَ بِهِ الْغَنِيُّ وَالْفَقِيْرُ | Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa supaya orang kaya dan orang miskin kedudukannya menjadi sama.” |
| وَذَلِكَ أَنَّ الْغَنِيَّ لَمْ يَكُنْ لِيَجِدَ مَسَّ الْجُوْعِ فَيَرْحَمَ الْفَقِيْرَ | “Hal itu karena orang kaya tadinya tidak akan pernah merasakan perihnya rasa lapar sehingga dia mungkin tidak akan kasihan kepada orang miskin.” |
| لِأَنَّ الْغَنِيَّ كُلَّمَا أَرَادَ شَيْئاً قَدَرَ عَلَيْهِ | “Sebab orang kaya itu setiap kali menginginkan sesuatu, dia pasti sanggup untuk mendapatkannya dengan mudah.” |
| فَأَرَادَ اللهُ تَعَالَى أَنْ يُسَوِّيَ بَيْنَ خَلْقِهِ | “Maka Allah Ta’ala ingin menyamakan di antara makhluk-makhluk-Nya.” |
| وَأَنْ يُذِيْقَ الْغَنِيَّ مَسَّ الْجُوْعِ وَالْأَلَمِ لِيَرِقَّ عَلَى الضَّعِيْفِ وَيَرْحَمَ الْجَائِعَ . | “Dan Allah ingin agar orang kaya mencicipi rasa lapar dan rasa sakit, supaya hatinya menjadi lembut kepada orang yang lemah dan muncul rasa sayang kepada orang yang sedang kelaparan.” |
penjelasan:
Hadis nomor 12697 ini menjelaskan tentang rahasia indah di balik perintah puasa yang diberikan oleh Allah kepada kita. Ternyata puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus dari subuh sampai magrib, tapi ada pelajaran moral yang sangat hebat di dalamnya. Imam Ja’far al-Sadiq menjelaskan bahwa Allah ingin semua manusia merasa setara, baik dia orang yang sangat kaya raya maupun orang yang sangat kekurangan harta.
Tanpa berpuasa, orang kaya mungkin tidak akan pernah mengerti betapa sedihnya perasaan perut yang kosong karena mereka bisa membeli makanan apa saja kapan pun mereka mau. Dengan mewajibkan puasa, Allah memaksa orang kaya untuk merasakan lapar yang sama seperti yang sering dirasakan orang miskin setiap harinya. Hal ini bertujuan agar kesombongan di hati menghilang dan berganti menjadi rasa empati yang mendalam.
Ketika seorang hamba merasakan perihnya perut yang keroncongan dan lemasnya tubuh saat berpuasa, hatinya akan menjadi lebih lembut dan mudah tersentuh. Dia akan sadar bahwa di luar sana ada banyak orang lemah yang butuh bantuan. Inilah cara Allah mendidik kita semua agar memiliki sifat dermawan dan selalu ingin menolong sesama yang sedang kesusahan atau kelaparan.
Perbandingan dengan Mazhab Sunni
-
Mazhab Hanafi menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah untuk mematahkan kekuatan nafsu amarah dan syahwat yang ada dalam diri manusia. Dengan menahan makan dan minum, jiwa seseorang akan menjadi lebih tunduk kepada perintah Allah dan menyadari betapa besarnya nikmat-nikmat kecil yang selama ini sering dilupakan. (Kitab Badai’ al-Sanai’ fi Tartib al-Sharai’, Ala al-Din al-Kasani, 1986, Jilid 2, Halaman 73).
-
Mazhab Maliki berpendapat bahwa puasa merupakan sarana terbaik untuk melatih kesabaran dan kejujuran seorang hamba. Puasa dianggap sebagai ibadah rahasia antara manusia dan Tuhannya, di mana hikmah utamanya adalah pembersihan jiwa dari sifat-sifat buruk agar manusia bisa mencapai derajat ketakwaan yang sebenar-benarnya. (Kitab Al-Mudawwanah al-Kubra, Imam Malik bin Anas, 1994, Jilid 1, Halaman 262).
-
Mazhab Syafi’i menekankan bahwa hikmah diwajibkannya puasa adalah agar seseorang bisa merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan sehingga tumbuh rasa solidaritas sosial. Selain itu, puasa juga berfungsi untuk menyehatkan badan dan memberikan waktu istirahat bagi organ pencernaan manusia setelah bekerja terus-menerus sepanjang tahun. (Kitab Al-Majmu’ Sharh al-Muhadhab, Imam al-Nawawi, 1995, Jilid 6, Halaman 248).
-
Mazhab Hanbali memandang puasa sebagai ujian ketaatan yang paling murni karena seseorang bisa saja makan secara sembunyi-sembunyi namun ia memilih tidak melakukannya karena takut kepada Allah. Rasa lapar saat berpuasa dipandang sebagai cara efektif untuk mempersempit ruang gerak setan di dalam aliran darah manusia sehingga hati menjadi lebih bercahaya. (Kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 1968, Jilid 3, Halaman 2).