Cetakan 2023,
| kalimat berbahasa arab | artinya |
| [فَصْلٌ]
فِي عَدَمِ صِحَّةِ مِثْلِ ذٰلِكَ الْقَوْلِ الْوُجُودِيِّ؛ بَلْ قَدْ يَجُرُّ قَائِلَهُ إِلَى الْكُفْرِ |
Bagian ini menjelaskan tentang salahnya ucapan yang menganggap diri sama dengan Tuhan, bahkan ucapan itu bisa membuat orangnya keluar dari agama Islam. |
| وَذٰلِكَ الْقَوْلُ لَا يَصِحُّ أَبَدًا، وَلَا لَهُ تَأْوِيلٌ، وَلَوْ فِي مَقَامِ الْجَمْعِ، فَضْلًا عَنْ مَقَامِ الْفَرْقِ | Perkataan itu selamanya tidak benar dan tidak bisa dicari-cari alasannya, baik saat seseorang merasa sangat dekat dengan Allah maupun saat dalam keadaan biasa. |
| وَقَدْ اتَّفَقَ الْعَارِفُونَ بِاللّٰهِ تَعَالَى أَنْ يَقُولُوا – رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ: (الْعَبْدُ عَبْدٌ وَلَوْ تَرَقَّى، وَالرَّبُّ رَبٌّ وَإِنْ تَنَزَّلَ) | Orang-orang yang sudah sangat mengenal Allah semuanya setuju bahwa hamba selamanya adalah hamba meski kedudukannya tinggi, dan Tuhan selamanya adalah Tuhan. |
| سَوَاءٌ كَانَ الْعَبْدُ فَانِيًا فِي اللّٰهِ تَعَالَى، أَوْ بَاقِيًا بِهِ | Hal ini tetap berlaku baik saat hamba merasa seolah-olah dirinya tidak ada karena kebesaran Allah, maupun saat dia merasa ada karena Allah. |
| يَا هٰذَا، أَمَا سَمِعْتَ وَفَهِمْتَ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ | Wahai teman, tidakkah kamu mendengar dan memahami firman Allah yang artinya sungguh telah kafir orang-orang yang berkata bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam. |
| وَهٰذَا الْقَوْلُ هُوَ اعْتِقَادُ أَهْلِ الْحُلُولِ وَالْإِتِّحَادِ مِنَ النَّصَارَى | Ucapan tersebut adalah keyakinan orang-orang Nasrani yang menganggap Tuhan menyatu dengan makhluk-Nya. |
| وَالْقَائِلُ بِأَنَّ اللّٰهَ نَفْسُهُ وَوُجُودُهُ وَهُوَ نَفْسُ اللّٰهِ وَوُجُودُهُ مِثْلُهُ مِنْ غَيْرِ تَفَاوُتٍ | Ada juga orang yang berkata bahwa Allah itu adalah dirinya sendiri dan keberadaan dirinya adalah keberadaan Allah tanpa ada bedanya. |
| بَلْ هٰذَا الْقَوْلُ أَخْبَثُ مِنْهُ وَأَكْفَرُ | Padahal ucapan seperti ini jauh lebih buruk dan lebih berbahaya daripada ucapan sebelumnya. |
| لِأَنَّ قَوْلَ النَّصَارَى (إِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ) مُوجِبٌ لِصَيْرُورَةِ اللّٰهِ سُبْحَانَهُ عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ | Sebab perkataan orang Nasrani yang menyebut Allah adalah Al-Masih itu membuat seolah-olah Allah adalah Nabi Isa putra Maryam saja. |
| وَهٰكَذَا كَانَ اعْتِقَادُ أَهْلِ الْحُلُولِ مِنْ طَائِفَةِ النَّصَارَى | Begitulah cara berkeyakinan kelompok Al-Hulul dari kalangan orang-orang Nasrani. |
| وَبَعْضُ النَّصَارَى يَعْتَقِدُونَ أَيْضًا أَنَّ اللّٰهَ تَعَالَى تَنَزَّلَ مِنْ عَالَمِ اللَّاهُوتِ إِلَى عَالَمِ النَّاسُوتِ، حَتَّى صَارَ عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ | Sebagian orang Nasrani juga percaya kalau Allah turun dari alam ketuhanan ke alam manusia sampai akhirnya berubah menjadi Nabi Isa putra Maryam. |
| وَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ الْمَسِيحَ عِيسَى بْنَ مَرْيَمَ هُوَ ابْنُ اللّٰهِ | Sebagian lagi dari mereka ada yang berkata bahwa Al-Masih Nabi Isa putra Maryam adalah anak Allah. |
| فَهٰذِهِ الْأَقْوَالُ الثَّلَاثُ كُلُّهَا كُفْرٌ، فَضْلًا عَنِ الْمُعْتَقِدِ فِيهَا | Ketiga macam ucapan ini semuanya adalah bentuk kekafiran, apalagi jika orang itu benar-benar meyakininya di dalam hati. |
| وَالْقَوْلُ بِـ (أَنَّ اللّٰهَ نَفْسُنَا وَوُجُودُنَا … إِلَخْ) مِثْلُهَا، بَلْ أَكْفَرُ مِنْهَا وَأَخْبَثُ | Perkataan bahwa Allah adalah diri kita dan keberadaan kita juga sama saja, bahkan bisa dibilang lebih parah kekafirannya. |
| لِأَنَّ عِيسَى الْمَسِيحَ بْنَ مَرْيَمَ وَاحِدٌ بِلَا شَكٍّ وَلَا رَيْبٍ | Alasannya karena Nabi Isa Al-Masih putra Maryam itu cuma ada satu orang saja dan itu sudah pasti benar. |
| وَأَنَّهُ لَيْسَ بِكَثِيرٍ بِاتِّفَاقِ جَمِيعِ أَهْلِ النِّحَلِ وَالْمِلَلِ مِنَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ وَمِلَّةٍ | Semua kelompok agama dari zaman dahulu sampai sekarang setuju bahwa Nabi Isa itu satu individu, bukan berjumlah banyak. |
| وَالْوَحْدَةُ مِنْ لَوَازِمِ صِفَةِ الْأُلُوهِيَّةِ وَالرُّبُوبِيَّةِ | Sifat satu atau Esa adalah ciri utama yang harus ada pada sifat Ketuhanan. |
| فَكَانَ عِيسَى الْمَسِيحُ بْنُ مَرْيَمَ أَحَقُّ بِالْأُلُوهِيَّةِ بِهٰذِهِ الْحَيْثِيَّةِ وَعَلَى هٰذَا التَّقْرِيرِ مِنْ غَيْرِهِ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – فِي الْجُمْلَةِ | Maka berdasarkan alasan salah tersebut, Nabi Isa AS seolah-olah lebih pantas dianggap Tuhan dibanding orang lain karena sifat tunggalnya itu. |
| كَمَا أَنَّ الْكَثْرَةَ مِنْ لَوَازِمِ… | Begitu juga sifat banyak itu adalah ciri dari… |
penjelasan:
Pelajaran ini mengajarkan kita bahwa hamba dan Tuhan itu sangat berbeda dan tidak boleh disamakan. Kita tidak boleh mengikuti keyakinan orang Nasrani yang menganggap Nabi Isa sebagai Allah atau anak Allah, karena itu adalah perbuatan yang sangat dilarang dalam agama Islam. Para ulama menjelaskan bahwa meskipun seseorang sudah sangat taat dan dekat dengan Allah, dia tetaplah seorang hamba dan Allah tetaplah Tuhannya yang Maha Esa. Menganggap diri sendiri atau manusia lain menyatu dengan Allah adalah kesalahan besar yang bisa merusak iman kita. Kita harus selalu ingat bahwa Allah itu satu dan tidak ada satu pun makhluk yang sama dengan-Nya.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
| وَالقَوْلُ بِأَنَّ اللهَ نَفْسَنَا وَوُجُودَنَا مُوجِبٌ لِصَيْرُوْرَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى جَمِيْعَ الإِنْسَانِ، وَصَيْرُوْرَةِ الإِنْسَانِ كُلِّهِ اللهَ | Beranggapan bahwa Allah itu adalah diri kita dan keberadaan kita bisa menyebabkan kita berpikir bahwa Allah itu adalah gabungan semua manusia, dan semua manusia itu adalah Allah. |
| تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا | Allah Maha Suci dan jauh lebih tinggi kedudukan-Nya dari anggapan yang salah seperti itu. |
| فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ، فَيَصِيْرُ اللهُ – الوَاحِدُ الأَحَدُ الفَرْدُ الصَّمَدُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – بِهَذِهِ الحَيْثِيَّةِ وَعَلَى هَذَا التَّقْرِيْرِ كَثِيْرًا لَيْسَ بِوَاحِدٍ، وَوَالِدًا وَمَوْلُوْدًا لَيْسَ بِصَمَدٍ | Jika hal itu benar, maka Allah yang Maha Tunggal, Maha Esa, dan tempat bergantung bagi semua makhluk, malah akan dianggap menjadi banyak dan bukan satu, serta dianggap punya orang tua atau punya anak sehingga Dia bukan lagi tempat bergantung. |
| وَيَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ أَيْضًا كَذِبُ قَوْلِهِ تَعَالَى: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ | Akibatnya, pemikiran itu akan membuat firman Allah dalam surat Al-Ikhlas menjadi tidak benar, padahal Allah sudah berfirman: Katakanlah, Dialah Allah yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. |
| وَالحَالُ أَنَّ اعْتِقَادَ أَهْلِ الإِسْلَامِ هُوَ الحَقُّ الصَّرِيْحُ وَالاعْتِقَادُ الصَّحِيْحُ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي القُرْآنِ الَّذِي لَا يَأْتِيْهِ البَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ، تَنْزِيْلٌ مِنْ حَكِيْمٍ عَلِيْمٍ، فِي سُوْرَةِ الإِخْلَاصِ | Padahal keyakinan orang-orang Islam yang sebenarnya dan yang paling benar adalah apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an, kitab yang tidak mungkin salah dan diturunkan oleh Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, seperti dalam surat Al-Ikhlas. |
| فَجَمِيْعُ الآيَةِ مِنَ المُتَشَابِهَاتِ مَرْدُوْدَةٌ إِلَى آيَةِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ | Jadi, semua ayat yang sulit dipahami harus dikembalikan artinya kepada ayat yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang menyerupai Allah. |
| وَهَذِهِ الآيَةُ هِيَ أَصْلُ الاعْتِقَادَاتِ كُلِّهَا | Ayat ini adalah pondasi atau aturan paling utama dari semua keyakinan kita. |
| وَجَمِيْعُ الآيَاتِ يَكُوْنُ مِنْ تَوَابِعِهَا | Dan semua ayat-ayat lain harus mengikuti aturan dari ayat pondasi tadi. |
| فَتَمَسَّكْ بِالأَصْلِ تُدْرَكْ بِالفَضْلِ لَا بِالعَكْسِ، لِعَدَمِ جَرَيَانِ حِكْمَةِ اللهِ فِي ذَلِكَ | Maka peganglah teguh pondasi ini supaya kamu mendapatkan kebaikan, jangan malah sebaliknya, karena cara berpikir yang terbalik itu tidak sesuai dengan aturan Allah yang bijaksana. |
| وَأَيْضًا، فَيَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ الإِنْسَانَ وَاحِدٌ لَيْسَ بِكَثِيْرٍ، وَصَمَدٌ لَيْسَ بِوَالِدٍ وَلَا مَوْلُوْدٍ | Selain itu, jika mengikuti anggapan salah tadi, maka manusia juga harus dianggap cuma satu tidak banyak, dan manusia dianggap sebagai Tuhan yang tidak punya orang tua atau anak. |
| وَأَنَّهُ لَيْسَ لَهُ كُفُوًا، لِأَنَّهُ فَرْدٌ لَا ثَانِيَ لَهُ | Dan manusia juga dianggap tidak ada yang menyamai karena dianggap tunggal tanpa ada yang kedua. |
| وَهُوَ مُحَالٌ لَا يَصِحُّ ذَلِكَ أَبَدًا بِوَجْهٍ مِنَ الوُجُوْهِ | Padahal hal itu sangat mustahil dan tidak mungkin benar dari sisi manapun. |
| فَانْعَكَسَ الأَمْرُ بِذَلِكَ، لِأَنَّهُ يَصِيْرُ العَبْدُ رَبًّا، وَالرَّبُّ عَبْدًا | Akibatnya keadaan jadi terbalik-balik, karena hamba malah dianggap Tuhan, dan Tuhan malah dianggap sebagai hamba. |
| وَانْقَلَبَتِ الحَقِيْقَةُ | Hal itu membuat kenyataan yang sebenarnya menjadi kacau dan terbalik. |
| وَقَلْبُ الحَقَائِقِ مِنَ المُسْتَحِيْلَاتِ | Membalikkan kenyataan seperti itu adalah hal yang tidak masuk akal dan mustahil terjadi. |
| وَلَا تَصِيْرُ حَقِيْقَةُ المَمْلُوْكِ مَالِكًا، كَمَا أَنَّ حَقِيْقَةَ المَالِكِ لَا يَصِيْرُ مَمْلُوْكًا | Barang yang dimiliki tidak mungkin berubah menjadi pemiliknya, sama seperti pemilik tidak mungkin berubah menjadi barang milik. |
penjelasan:
Keyakinan bahwa Allah Ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya atau bahwa diri kita adalah Allah merupakan pemahaman yang salah besar. Jika kita menganggap Allah adalah diri kita, maka hal itu akan merusak sifat-sifat Allah yang Maha Esa dan Maha Tunggal. Dalam surat Al-Ikhlas, Allah sudah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada yang setara dengan-Nya. Semua ayat dalam Al-Qur’an yang terasa sulit dipahami harus selalu dikembalikan kepada prinsip utama yaitu Laisa Kamitslihi Syai’un, yang artinya tidak ada sesuatu pun yang mirip dengan Allah.
Sangat tidak mungkin jika seorang hamba atau makhluk biasa berubah menjadi Tuhan, begitu juga sebaliknya. Seperti halnya sebuah barang kepemilikan tidak akan pernah bisa menjadi pemiliknya sendiri, maka seorang hamba selamanya akan menjadi hamba dan Allah selamanya adalah Tuhan yang menciptakan dan memiliki segalanya. Membolak-balik kenyataan ini adalah hal yang mustahil secara akal dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang benar.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
| وَيَلْزَمُ ذَلِكَ أَيْضاً تَكْثِيراً لِوَاحِدٍ، وَتَوْحِيْداً لِكَثِيْرٍ؛ وَالْخَالِقُ مَخْلُوْقاً، وَالْمَخْلُوْقُ خَالِقاً | Hal itu juga bisa membuat Tuhan yang satu dianggap banyak, atau yang banyak dianggap satu, lalu Sang Pencipta dianggap sebagai ciptaan, dan ciptaan malah dianggap sebagai Sang Pencipta. |
| فَهَذَا مَا لَا يَصِحُّ أَبَداً بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ | Hal seperti ini benar-benar tidak benar dan tidak mungkin boleh terjadi dalam cara apa pun. |
| فَإِذَا عَلِمْتَ ذَلِكَ وَعَرَفْتَ اسْتِحْقَاقَ أُلُوْهِيَّةِ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْ غَيْرِهِ فِي الْجُمْلَةِ يَفْرِضُ الْمُحَالَ | Kalau kamu sudah paham hal ini, kamu akan mengerti bahwa menganggap Nabi عِيْسَى layak menjadi tuhan adalah sesuatu yang mustahil. |
| وَهُوَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَبَرَّأُ مِنْ ذَلِكَ | Nabi عِيْسَى sendiri berlepas diri dan tidak setuju dengan anggapan tersebut. |
| بَلْ يُفْرِضُ الْمُحَالَ أَيْضاً أَنَّ سَيِّدَ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ – فَضْلاً عَنْ غَيْرِهِمْ – أَحَقُّ بِالْأُلُوْهِيَّةِ مِنْ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، لِأَنَّ الرَّسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ مِنْهُ بِالْإِجْمَاعِ | Malah, secara logika yang tidak mungkin juga, pemimpin para nabi dari awal sampai akhir tentu lebih pantas disebut tuhan daripada Nabi عِيْسَى, karena para ulama sudah sepakat bahwa Rasulullah lebih utama daripada beliau. |
| وَوَجْهُ أَفْضَلِيَّتِهِ عَلَيْهِ وَعَلَى غَيْرِهِ؛ قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((آدَمُ وَمَنْ دُوْنَهُ تَحْتَ لِوَائِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ)) | Bukti kalau Nabi Muhammad lebih hebat dari semuanya adalah sabda beliau bahwa Nabi آدَم dan semua manusia lainnya akan berada di bawah bendera beliau pada hari kiamat nanti. |
| وَقَوْلُهُ أَيْضاً: ((أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ رُوْحِي)) | Beliau juga pernah bersabda bahwa hal pertama yang diciptakan Allah adalah ruh beliau. |
| وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الْأَحَادِيْثِ كَثِيْرٌ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ – عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ – أَفْضَلُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ أَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ | Masih banyak hadits lain yang menunjukkan bahwa beliau adalah ciptaan yang paling mulia dari seluruh makhluk sejak awal sampai akhir. |
| وَأَنَّهُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَيِّدُ الْكُلِّ صُوْرَةً وَمَعْنًى، ظَاهِراً وَبَاطِناً | Beliau adalah pemimpin bagi semuanya, baik dari rupa fisiknya maupun sifat-sifatnya, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. |
| وَمَعَ هَذَا، أَنَّهُ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُوْلُ: ((لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ)) | Namun meskipun begitu, Nabi Muhammad berpesan supaya kita jangan memuji beliau secara berlebihan seperti orang-orang Nasrani memuji Nabi عِيْسَى anak Maryam. |
| وَهَذَا نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: ((إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ.)) | Nabi Muhammad kita juga berkata bahwa beliau hanyalah manusia biasa seperti kita semua. |
| ((آكُلُ كَمَا تَأْكُلُوْنَ، وَأَشْرَبُ كَمَا تَشْرَبُوْنَ)) أَوْ كَمَا قَالَ | Beliau berkata kalau beliau juga makan dan minum seperti yang kita lakukan, atau seperti itulah yang beliau sampaikan. |
penjelasan:
Pelajaran ini memberitahu kita bahwa tidak boleh menganggap manusia sebagai tuhan karena itu adalah hal yang mustahil dan salah besar. Nabi عِيْسَى sendiri tidak mau dianggap sebagai tuhan oleh para pengikutnya. Penulis juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia dan pemimpin seluruh nabi, tapi beliau tetaplah seorang manusia biasa yang diciptakan Allah. Nabi Muhammad melarang umatnya untuk memuja beliau secara berlebihan sampai melewati batas, karena beliau tetap butuh makan dan minum seperti manusia lainnya agar kita tidak salah dalam memahami kedudukan beliau sebagai hamba Allah.