Cetakan 2023, halaman 9.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
| [فَصْلٌ] فِي أَنَّ الْأَنْبِيَاءَ يُثْبِتُونَ عُبُودِيَّتَهُمْ وَلَمْ يُشِيرُوا إِلَى أُلُوهِيَّتِهِمْ، وَلَمْ يَقُولُوا بِأَيِّ كَلَامٍ يُشِيرُ إِلَى الْوَحْدَةِ الْوُجُودِيَّةِ. |
Bab tentang para Nabi yang menegaskan bahwa mereka adalah hamba dan tidak pernah menganggap diri mereka sebagai Tuhan, serta tidak pernah mengucapkan kata-kata yang mengarah pada paham bahwa Tuhan dan makhluk itu satu. |
| وَلَقَدِ انْجَرَّ الْكَلَامُ وَطَالَ الْأَقْلَامُ فِي هَذَا الْمَقَامِ. | Pembahasan mengenai masalah ini sudah berlangsung sangat panjang dan sudah banyak sekali ditulis dalam berbagai catatan. |
| فَلْنَرْجِعِ الْآنَ إِلَى صَرِيحِ الْكَلَامِ السَّابِقِ وَتَصْحِيحِ الْأَمْرِ اللَّاحِقِ. | Sekarang, mari kita kembali pada penjelasan yang sudah jelas sebelumnya dan membenarkan pembahasan yang akan kita bahas selanjutnya. |
| وَهُوَ: أَنَّ عِيسَى الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهَا السَّلَامُ يَقُولُ أَيْضًا عَلَى لِسَانِ الْحَقِّ تَعَالَى وَمُخْبِرٌ عَنْهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَالْفُرْقَانِ الْكَرِيمِ: ﴿إِنِّي عَبْدُ اللهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ﴾ الْآيَةَ. | Penjelasannya adalah Nabi Isa Al-Masih putra Maryam juga berkata melalui firman Allah Ta’ala dan menceritakan keadaan dirinya di dalam Al-Qur’an yang agung: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Dia memberiku Kitab suci”. |
| وَلَا يَقُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: (إِنِّي أَنَا اللهُ)، وَ(أَنَا الْحَقُّ)، وَ(نَفْسُ اللهِ). | Beliau sama sekali tidak pernah berkata: “Sesungguhnya aku adalah Allah”, atau “Aku adalah Al-Haq (Tuhan)”, atau “Aku adalah diri Allah”. |
penjelasan:
Para Nabi adalah utusan Allah yang paling mulia, namun mereka tetaplah hamba yang rendah hati di hadapan Allah Ta’ala. Mereka tidak pernah mengaku-ngaku memiliki sifat ketuhanan atau mengajak orang lain untuk menyembah mereka. Hal ini ditegaskan untuk membantah paham Wahdatul Wujud yang salah, yaitu anggapan bahwa Tuhan dan manusia bisa menyatu menjadi satu kesatuan. Contohnya adalah Nabi Isa Al-Masih yang dengan jujur mengakui dirinya sebagai hamba Allah. Di dalam Al-Qur’an, Nabi Isa menjelaskan bahwa beliau hanyalah manusia biasa yang dipilih Allah untuk menerima kitab suci dan menjadi utusan-Nya. Nabi Isa tidak pernah merasa dirinya adalah Tuhan atau bagian dari dzat Allah, karena tugas utama seorang Nabi adalah mengajak manusia hanya menyembah Allah saja dan mengakui bahwa diri mereka sendiri hanyalah seorang hamba.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
| وَمَعَ هَذَا جَاءَ التَّوْبِيخُ مِنْ جَانِبِ الْحَقِّ تَعَالَى لَهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ. | Meskipun begitu, teguran datang dari Allah yang Maha Benar kepada Nabi Isa alaihis salam. |
| يَقُولُ لَهُ: ءَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ. | Allah bertanya kepadanya: Apakah kamu pernah bilang ke orang-orang: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah? |
| فَقَالَ: إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ الْآيَةَ. | Lalu Nabi Isa menjawab: Kalau memang aku pernah mengatakannya, pasti Engkau sudah mengetahuinya. |
| وَهَذَا النَّبِيُّ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَفْضَلُ الْخَلْقِ بَعْدَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَقْوَالِ غَالِبِ بَعْضِ مُحَقِّقِي أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْكَمَالِ. | Lalu ada Nabi Ibrahim alaihis salam yang merupakan makhluk paling mulia setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menurut pendapat banyak ulama yang hebat. |
| وَهُوَ يَقُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ. | Nabi Ibrahim alaihis salam berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, Dialah yang akan memberi petunjuk kepadaku. |
| وَلَا يَقُولُ: إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى نَفْسِي. | Beliau tidak bilang: Aku pergi menghadap diriku sendiri. |
| وَكَلَامُ الْمَعْصُومِ لَا يَكُونُ إِلَّا الْحَقَّ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ. | Ucapan seorang Nabi yang Ma’shum itu pasti benar, baik yang terlihat maupun yang di dalam hati. |
| وَكَلَامُ غَيْرِ الْمَعْصُومِ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ حَقًّا وَغَيْرَ حَقٍّ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ. | Tapi ucapan orang yang bukan Ma’shum itu bisa saja benar dan bisa saja salah kenyataannya. |
| وَلَوْ كَانَ مِنَ الْأَوْلِيَاءِ لِأَنَّهُمْ غَيْرُ مَعْصُومِينَ وَإِنْ كَانُوا مِنَ الْمَحْفُوظِينَ فَضْلًا عَنْ غَيْرِهِمْ. | Walaupun dia adalah seorang Wali Allah, karena mereka tidak Ma’shum meskipun mereka termasuk orang-orang yang dijaga oleh Allah, apalagi orang biasa. |
| فَافْهَمْ إِنْ كُنْتَ ذَا فَهْمٍ. | Jadi pahamilah hal ini kalau kamu memang punya pemahaman yang baik. |
penjelasan:
Pelajaran ini menceritakan tentang sifat para Nabi yang sangat mulia dan rendah hati di hadapan Allah. Nabi Isa alaihis salam ditegur oleh Allah untuk menunjukkan bahwa semua petunjuk itu hanya datang dari Allah, dan Nabi Isa menjawab dengan sopan bahwa Allah pasti tahu segala isi hatinya. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim alaihis salam yang selalu menyandarkan segala urusannya kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri. Hal yang paling penting untuk kita ingat adalah perbedaan antara Nabi dan manusia biasa atau para Wali. Seorang Nabi itu Ma’shum, artinya mereka dijaga oleh Allah sehingga semua perkataannya pasti benar dan jujur, baik yang diucapkan maupun yang ada di dalam hati. Sedangkan orang lain yang bukan Nabi, meskipun dia adalah seorang Wali atau orang saleh yang dijaga perilakunya, ucapan mereka masih ada kemungkinan salah. Kita harus bisa membedakan mana ucapan yang pasti benar dari para Nabi dan mana ucapan manusia biasa yang belum tentu semuanya benar.