Berikut adalah pembahasan tentang hadis nomor 12701, dari kitab Fiqh Puasa Syiah yang dimuat di kitab Wasa’il al-Shia, sebuah kumpulan hadis penting dalam tradisi Ahlul Bait yang disusun oleh Syekh Al-Hurr al-Amili jilid sepuluh bagian bab kewajiban puasa.
| kalimat berbahasa arab | artinya |
|---|---|
| وَفِي ( الْعِلَلِ ) وَ ( عُيُونِ الْأَخْبَارِ ) بِأَسَانِيدِهِ عَنِ الْفَضْلِ بْنِ شَاذَانَ ، عَنِ الرِّضَا (عَلَيْهِ السَّلَامُ) قَالَ : إِنَّمَا أُمِرُوا بِالصَّوْمِ لِكَيْ يَعْرِفُوا أَلَمَ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ فَيَسْتَدِلُّوا عَلَى فَقْرِ الْآخِرَةِ | Dalam kitab al-Ilal dan Uyun al-Akhbar, melalui jalur cerita dari al-Fadl bin Shadhan, Imam ar-Ridha berkata bahwa manusia disuruh berpuasa supaya mereka mengerti rasa sakitnya lapar dan haus, sehingga mereka bisa membayangkan betapa butuhnya kita di hari kiamat nanti. |
| وَلِيَكُونَ الصَّائِمُ خَاشِعاً ذَلِيلاً مُسْتَكِيناً مَأْجُوراً مُحْتَسِباً عَارِفاً صَابِراً عَلَى مَا أَصَابَهُ مِنَ الْجُوعِ وَالْعَطَشِ فَيَسْتَوْجِبَ الثَّوَابَ مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الْإِمْسَاكِ عَنِ الشَّهَوَاتِ | Puasa ini juga bertujuan agar orang yang melakukannya menjadi rendah hati, tenang, sabar saat lapar, dan ikhlas sehingga dia pantas mendapatkan pahala, apalagi dia sudah berjuang menahan keinginan-keinginan buruknya. |
| وَلِيَكُونَ ذَلِكَ وَاعِظاً لَهُمْ فِي الْعَاجِلِ ، وَدَلِيلاً لَهُمْ فِي الْآجِلِ | Rasa lapar itu menjadi nasihat atau pengingat untuk hidup kita sekarang dan menjadi petunjuk untuk kehidupan kita nanti di masa depan setelah mati. |
| وَلِيَعْرِفُوا شِدَّةَ مَبْلَغِ ذَلِكَ عَلَى أَهْلِ الْفَقْرِ وَالْمَسْكَنَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَيُؤَدُّوا إِلَيْهِمْ مَا افْتَرَضَ اللهُ لَهُمْ فِي أَمْوَالِهِمْ | Terakhir, supaya kita semua tahu betapa susahnya hidup orang-orang miskin di dunia ini, sehingga kita mau memberikan harta kita kepada mereka sesuai dengan aturan yang sudah Allah buat. |
penjelasan:
Hadis nomor 12701 ini memberikan alasan yang sangat mendalam tentang mengapa kita diperintahkan untuk berpuasa. Imam ar-Ridha menjelaskan bahwa puasa adalah sarana agar kita bisa merasakan penderitaan fisik berupa lapar dan haus. Tujuannya adalah agar rasa lapar tersebut mengingatkan kita pada kondisi di hari kiamat, di mana manusia akan merasa sangat butuh dan tidak punya apa-apa, sehingga kita menjadi lebih rajin menyiapkan bekal amal saleh.
Selain sebagai pengingat akhirat, puasa juga membentuk karakter yang luar biasa di dalam diri seseorang. Dengan menahan haus dan lapar, seorang hamba dilatih untuk menjadi pribadi yang rendah hati, sabar, dan tidak sombong. Perjuangan melawan keinginan-keinginan atau nafsu selama berpuasa inilah yang membuat seseorang layak mendapatkan pahala besar karena ia telah berhasil mendidik jiwanya menjadi lebih tenang dan patuh.
Tujuan sosial dari puasa juga sangat ditekankan dalam hadis ini. Allah ingin agar kita semua benar-benar memahami betapa beratnya kehidupan orang-orang yang kekurangan rezeki setiap harinya. Kesadaran ini diharapkan bisa menyentuh hati kita agar tidak pelit dan segera memberikan hak orang miskin melalui zakat atau bantuan lainnya dari harta yang kita miliki.
Perbandingan dengan Mazhab Sunni
- Mazhab Hanafi: Mazhab ini memandang puasa sebagai ibadah untuk mematahkan kekuatan syahwat yang menjadi pintu masuk setan. Dengan merasa lapar, seseorang akan lebih mudah mengendalikan diri dari perbuatan dosa dan maksiat karena raga yang lemas tidak akan bersemangat melakukan hal-hal buruk. Nama kitab: Al-Mabsut, penulis: As-Sarakhsi, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1993, halaman: 54.
- Mazhab Maliki: Ulama dalam mazhab ini menekankan bahwa puasa adalah latihan sabar yang paling utama karena melibatkan penahanan kebutuhan dasar manusia. Puasa dianggap sebagai rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya yang tidak diketahui oleh orang lain, sehingga mendidik kejujuran yang sangat tinggi dalam diri pelakunya. Nama kitab: Al-Mudawwanah al-Kubra, penulis: Imam Malik, nama penerbit: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tahun terbit: 1994, halaman: 176.
- Mazhab Syafi’i: Mazhab ini menjelaskan bahwa salah satu hikmah puasa adalah untuk menjernihkan hati agar lebih peka terhadap ilmu agama. Ketika perut tidak terlalu penuh, pikiran akan menjadi lebih terang dan hati tidak akan keras, sehingga seseorang lebih mudah merasa iba dan sayang kepada sesama manusia yang hidup dalam kesusahan. Nama kitab: Al-Umm, penulis: Imam asy-Syafi’i, nama penerbit: Dar al-Ma’rifah, tahun terbit: 1990, halaman: 78.
- Mazhab Hanbali: Dalam pandangan mazhab ini, puasa adalah cara hamba untuk mendekatkan diri kepada derajat malaikat yang tidak makan dan tidak minum. Rasa lapar dipandang sebagai pengingat akan besarnya nikmat Allah yang sering dilalaikan, serta menjadi benteng pelindung dari siksa api neraka bagi siapa saja yang menjalankannya dengan tulus. Nama kitab: Al-Mughni, penulis: Ibnu Qudamah, nama penerbit: Dar al-Manar, tahun terbit: 1985, halaman: 102.