| Kalam | Artinya |
| وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: إِذَا مَاتَ الْعَالِمُ بَكَاهُ الْحُوتُ فِي الْمَاءِ وَالطَّيْرُ فِي الْهَوَاءِ، وَيُفْقَدُ وَجْهُهُ وَلَا يُنْسَى ذِكْرُهُ | Dan sebagian Hukama (orang bijak) berkata: “Jika seorang ‘Alim (orang berilmu) meninggal dunia, maka ikan di dalam air dan burung di udara akan menangisinya. Wajahnya memang hilang (tidak terlihat lagi), tetapi namanya tidak akan dilupakan.” |
| وَقَالَ الزُّهْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: الْعِلْمُ ذِكْرٌ وَلَا تُحِبُّهُ إِلَّا ذُكْرَانُ الرِّجَالِ | Dan Az-Zuhri rahimahullah berkata: “Ilmu itu adalah sesuatu yang gagah (jantan), dan tidak ada yang menyukainya kecuali laki-laki yang pemberani (jantan).” |
Penjelasan:
Pada kalimat pertama, para orang bijak (Hukama) mengajarkan kita betapa berharganya seorang ‘Alim atau ulama. Ketika seorang ulama wafat, kesedihan itu tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh hewan-hewan seperti ikan di laut dan burung di langit. Mengapa? Karena orang berilmu selalu mengajarkan kebaikan dan kasih sayang kepada semua makhluk. Meskipun tubuh dan wajah ulama tersebut sudah masuk ke dalam tanah dan tidak bisa kita lihat lagi, nama baik dan ajaran mereka akan selalu dikenang selamanya.
Pada kalimat kedua, Imam Az-Zuhri memberikan nasihat bahwa menuntut ilmu itu adalah pekerjaan yang berat dan membutuhkan kekuatan. Beliau menyebut ilmu sebagai sesuatu yang “jantan” atau gagah. Maksudnya, belajar itu butuh kesabaran yang kuat, semangat yang tinggi, dan tidak boleh manja. Oleh karena itu, ilmu hanya akan dicintai dan dikejar oleh orang-orang yang punya jiwa pemberani dan tangguh, layaknya seorang laki-laki sejati yang tidak mudah menyerah.