Cetakan 2023, halaman 9
| Kalam | Artinya |
| [فَصْلٌ]
فِي بَيَانِ التَّنْزِيهِ وَالتَّشْبِيهِ؛ وَوُجُوبِ الْجَمْعِ بَيْنَهُمَا. |
[Pasal]
Penjelasan tentang Tanzih (penyucian) dan Tashbih (penyerupaan/penetapan sifat); serta kewajiban menggabungkan keduanya. |
| وَكَذَلِكَ اعْتِقَادُنَا فِي حَقِّهِ تَعَالَى أَيْضاً. | Begitu juga keyakinan kita mengenai hak Allah Ta’ala. |
| كَانَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ فِي مَقَامٍ بَيْنَ التَّنْزِيهِ الْمُطْلَقِ [وَالتَّشْبِيهِ الْمُطْلَقِ]٤٨. | Seharusnya sikap kita berada di tengah-tengah antara Tanzih mutlak (mensucikan Allah sepenuhnya dari sifat makhluk) dan Tashbih mutlak (menyerupakan Allah sepenuhnya dengan makhluk). |
| بِمَعْنَى أَنَّهُ نُنَزِّهُهُ٤٩ فِي مَقَامِ التَّشْبِيهِ وَنُشَبِّهُهُ٥٠ فِي مَقَامِ التَّنْزِيهِ. | Maksudnya, kita mensucikan-Nya saat sedang menetapkan sifat-Nya, dan kita menetapkan sifat-Nya saat sedang mensucikan-Nya (saling melengkapi). |
| لِأَنَّ التَّنْزِيهَ الْمُطْلَقَ الْخَالِي عَنِ التَّشْبِيهِ – عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَصْحَابِ تَدْقِيقِ الْعُلُومِ وَتَحْقِيقِ الْفُهُومِ – يَشُمُّ رَائِحَةَ أَهْلِ التَّعْطِيلِ /١٦٠أ/ مِنَ الْمُعَطِّلَةِ. | Karena Tanzih mutlak yang kosong dari penetapan sifat—menurut para peneliti ilmu yang teliti dan pemahaman yang mendalam—itu tercium aroma golongan Ta’thil (yang menolak adanya sifat Allah) dari kaum Mu’attilah. |
| وَكَذَلِكَ التَّشْبِيهُ الْمُطْلَقُ الْمُجَرَّدُ عَنِ التَّنْزِيهِ أَيْضاً يَشُمُّ رَائِحَةَ أَهْلِ التَّمْثِيلِ مِنَ الْمُجَسِّمَةِ. | Begitu juga Tashbih mutlak yang terlepas dari penyucian (Tanzih), itu tercium aroma golongan Tamtsil (yang menyamakan Allah dengan makhluk) dari kaum Mujassimah (yang menganggap Allah punya tubuh). |
| وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ فَإِنَّهُمْ يَقُولُونَ بِالتَّنْزِيهِ وَبِالتَّشْبِيهِ مَعاً. لِأَنَّ الشَّرْعَ وَارِدٌ عَلَى ذَلِكَ. | Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan ulama peneliti, mereka berpendapat dengan menggabungkan Tanzih dan Tashbih secara bersamaan. Karena hukum agama datang dengan membawa hal tersebut. |
| أَمَّا فَهِمْتَ قَوْلَهُ تَعَالَى ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾٥١ هُوَ مَقَامُ التَّنْزِيهِ؛ ﴿وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾٥٢ هُوَ مَقَامُ التَّشْبِيهِ. | Tidakkah kamu memahami firman Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” ini adalah posisi Tanzih (penyucian); dan ayat: “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” ini adalah posisi Tashbih (penetapan sifat). |
| فَالْحَاصِلُ: أَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ هَذَا التَّحْرِيرِ وَعَلَى هَذَا التَّقْرِيرِ يَكُونُ ثُبُوتُ التَّنْزِيهِ مَعَ التَّشْبِيهِ، وَثُبُوتُ التَّشْبِيهِ مَعَ التَّنْزِيهِ. | Kesimpulannya: Maksud dari tulisan dan ketetapan ini adalah menetapkan Tanzih berbarengan dengan Tashbih, dan menetapkan Tashbih berbarengan dengan Tanzih. |
| فَنَزِّهْ وَشَبِّهْ، وَلَا تَكُنْ مِنْ أَقْسَامِ الْمُجَسِّمَةِ وَلَا مِنْ أَقْسَامِ الْمُعَطِّلَةِ. | Maka sucikanlah Allah (Tanzih) sekaligus tetapkanlah sifat-Nya (Tashbih), dan janganlah kamu menjadi bagian dari kaum Mujassimah ataupun kaum Mu’attilah. |
| وَاجْمَعْ٥٣، تَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَالْكَمَالِ أَصْحَابِ السَّعَادَةِ الْكُبْرَى وَالْمَرْتَبَةِ الْقُصْوَى مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ /٦٠ب/ الَّذِينَ كَانُوا عَلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ. | Gabungkanlah keduanya, niscaya kamu akan menjadi ahli kebenaran dan kesempurnaan, pemilik kebahagiaan terbesar dan derajat tertinggi dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, orang-orang yang berada di jalan yang lurus dan benar. |
Penjelasan:
Teks ini membahas tentang aqidah (keyakinan) kita kepada Allah, khususnya bagaimana kita memahami sifat-sifat Allah agar tidak sesat. Berikut poin-poin pentingnya:
-
Dua Istilah Penting:
-
Tanzih: Meyakini bahwa Allah Maha Suci, tidak sama dengan makhluk, dan tidak punya kekurangan.
-
Tashbih: Dalam konteks positif di sini artinya menetapkan bahwa Allah punya sifat (seperti Mendengar, Melihat) yang namanya mirip dengan sifat makhluk, tapi hakikatnya berbeda.
-
-
Jalan Tengah (Wasathiyah): Penulis mengajarkan bahwa kita harus menggabungkan keduanya. Kita tidak boleh berat sebelah.
-
Jika hanya pakai Tanzih saja (menolak semua kemiripan), kita bisa jatuh menjadi kaum Mu’attilah (orang yang menolak sifat Allah, seolah-olah Allah itu tidak ada atau hampa).
-
Jika hanya pakai Tashbih saja (meyakini kemiripan mutlak), kita bisa jatuh menjadi kaum Mujassimah (orang yang membayangkan Allah punya tubuh fisik seperti manusia).
-
-
Dalil Al-Qur’an: Penulis mencontohkan Surat Asy-Syura ayat 11 yang sangat indah menggabungkan keduanya:
-
“Laisa kamitslihi syai’un” (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia) -> Ini adalah Tanzih (Penyucian).
-
“Wahuwas sami’ul bashir” (Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat) -> Ini adalah Tashbih (Penetapan Sifat).
-
-
Kesimpulan: Aqidah yang benar menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah meyakini Allah punya sifat (Mendengar, Melihat, Hidup, dll) tetapi sifat tersebut tidak sama dengan makhluk. “Tetapkan sifatnya, tapi sucikan dari kemiripan dengan makhluk.” Itulah jalan yang lurus.