Skip to content

surauEMKA

مَا زِلتَ طالبًا

Menu
  • Home
  • Pendidikan
  • Ke-NU-an
  • Bahtsul Masail
  • PKB
  • Kitab Kuning
    • Ihya Ulumiddin
    • Nashoihul Ibad
    • Idhotun Nasyiin
    • Jurumiyah
    • Alala
    • Akhlaq lil Banin
Menu
pendidikan anak

Pandangan Imam Ghazali tentang Parenting di Era Digital

Posted on December 23, 2025December 23, 2025 by Manarul Ikhsan

Zaman sekarang ini rasanya nggak ada batasan lagi soal informasi. Teknologi berkembang cepat banget, sampai-sampai anak kecil yang harusnya main kelereng atau lalaran nadhom, sekarang malah lebih jago scroll layar. Artikel kali ini bakal mengajak jenengan merenungi fenomena anak-anak dan gadget, ditinjau dari kacamata medis serta nasihat mendalam dari Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.

Coba jenengan perhatikan sekeliling, atau mungkin di lingkungan keluarga sendiri. Tangan-tangan mungil itu sekarang menggenggam pintu menuju dunia luar yang nggak ada saringannya. Di layar itu ada pameran gaya hidup hedon, kata-kata pisuhan yang kasar, sampai hiburan yang bikin candu. Padahal, dunia digital itu aslinya hutan belantara yang harusnya cuma dimasuki orang dewasa yang sudah akil baligh secara mental. Tapi faktanya? Anak-anak yang belum paham hakikat hidup malah jadi penikmat utamanya.

Miris rasanya kalau melihat anak-anak hari ini lebih akrab sama layar ponsel ketimbang menyapa tetangga atau sowan ke sanak famili. Mereka lebih gampang ketawa lihat video pendek berdurasi 15 detik daripada merespons panggilan orang tuanya sendiri. Jenengan mungkin juga merasa, kok komentar netizen asing lebih didengar daripada petuah bapak-ibunya? Perlahan tapi pasti, masa kanak-kanak mereka seperti dicuri, menyisakan kekosongan jiwa yang bahaya banget buat masa depan.

Para peneliti modern di Barat sana sebenarnya sudah wanti-wanti. Ahli dari Johns Hopkins Medicine menyebut kalau medsos bisa bikin mental anak ambyar. Risikonya nggak main-main: stres, cemas berlebih, insecure alias kurang percaya diri, sampai susah fokus. Belum lagi laporan dari American Academy of Pediatrics yang bilang kalau anak gampang banget terpapar konten yang nggak senonoh, kekerasan, sampai pornografi. Ini jelas merusak “kabel-kabel” emosional dan moral mereka. Istilah kerennya sekarang, mereka rentan kena cyberbullying dan kecanduan layar yang bikin mereka jadi makhluk antisosial.

Nah, kalau kita tarik ke ranah agama, peringatan para ahli medis itu sebenarnya klop banget sama prinsip Islam. Anak itu amanah, bukan sekadar aset lucu-lucuan buat diposting di story. Jenengan pasti sepakat kalau anak akan tumbuh sesuai apa yang kita tanam. Kalau yang menanam benih di kepalanya adalah algoritma medsos, ya jangan kaget kalau panennya nanti nggak sesuai harapan.

Hujjatul Islam, Sang Pembela Islam, al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H) dalam kitab legendarisnya, Ihya’ Ulumiddin, memberikan panduan parenting yang dahsyat. Beliau dawuh:

اعْلَمْ أَنَّ الطَّرِيقَ فِي رِيَاضَةِ الصِّبْيَانِ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ وَأَوْكَدِهَا والصبيان أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيَةٌ عَنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ وَمَائِلٌ إِلَى كُلِّ مَا يُمَالُ بِهِ إِلَيْهِ فَإِنْ عُوِّدَ الْخَيْرَ وَعُلِّمَهُ نَشَأَ عَلَيْهِ وَسَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وشاركه في ثوابه أبوه وَكُلُّ مُعَلِّمٍ لَهُ وَمُؤَدِّبٍ وَإِنْ عُوِّدَ الشَّرَّ وَأُهْمِلَ إِهْمَالَ الْبَهَائِمِ شَقِيَ وَهَلَكَ وَكَانَ الْوِزْرُ في رقبة القيم عليه والوالي له وقد قال الله عز وجل ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نارًا﴾ وَمَهْمَا كَانَ الْأَبُ يَصُونُهُ عَنْ نَارِ الدُّنْيَا فَبِأَنْ يَصُونَهُ عَنْ نَارِ الْآخِرَةِ أَوْلَى وَصِيَانَتُهُ بِأَنْ يُؤَدِّبَهُ وَيُهَذِّبَهُ وَيُعَلِّمَهُ مَحَاسِنَ الْأَخْلَاقِ وَيَحْفَظَهُ من القرناء السُّوءِ وَلَا يُعِوِّدُهُ التَّنَعُّمَ وَلَا يُحَبِّبُ إِلَيْهِ الزينة والرفاهية فَيَضِيعُ عُمْرُهُ فِي طَلَبِهَا إِذَا كَبِرَ فَيَهْلِكُ هَلَاكَ الْأَبَدِ

Kalimah Artinya
اعْلَمْ أَنَّ الطَّرِيقَ فِي رِيَاضَةِ الصِّبْيَانِ مِنْ أَهَمِّ الْأُمُورِ وَأَوْكَدِهَا Ketahuilah, bahwa metode dalam mendidik anak-anak adalah termasuk perkara yang paling penting dan paling ditekankan.
والصبيان أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيَةٌ عَنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ وَمَائِلٌ إِلَى كُلِّ مَا يُمَالُ بِهِ إِلَيْهِ Anak-anak adalah amanah di sisi kedua orang tuanya, dan hatinya yang suci adalah permata berharga yang polos, kosong dari setiap ukiran dan gambaran, dan dia siap menerima setiap apa yang diukirkan padanya, serta cenderung kepada setiap apa yang dicondongkan kepadanya.
فَإِنْ عُوِّدَ الْخَيْرَ وَعُلِّمَهُ نَشَأَ عَلَيْهِ وَسَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وشاركه في ثوابه أبوه وَكُلُّ مُعَلِّمٍ لَهُ وَمُؤَدِّبٍ Maka jika dia dibiasakan dengan kebaikan dan diajarkan kepadanya, dia akan tumbuh di atasnya dan berbahagia di dunia dan akhirat, dan ayahnya serta setiap pengajar dan pendidiknya akan turut serta dalam pahalanya.
وَإِنْ عُوِّدَ الشَّرَّ وَأُهْمِلَ إِهْمَالَ الْبَهَائِمِ شَقِيَ وَهَلَكَ وَكَانَ الْوِزْرُ في رقبة القيم عليه والوالي له Dan jika dia dibiasakan dengan keburukan dan diabaikan seperti pengabaian binatang ternak, dia akan celaka dan binasa, dan dosa itu akan berada di pundak pengasuh dan penanggung jawabnya.
وقد قال الله عز وجل ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نارًا﴾ وَمَهْمَا كَانَ الْأَبُ يَصُونُهُ عَنْ نَارِ الدُّنْيَا فَبِأَنْ يَصُونَهُ عَنْ نَارِ الْآخِرَةِ أَوْلَى Dan sungguh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Dan kapanpun seorang ayah menjaganya dari api dunia, maka dengan menjaganya dari api akhirat itu lebih utama.
وَصِيَانَتُهُ بِأَنْ يُؤَدِّبَهُ وَيُهَذِّبَهُ وَيُعَلِّمَهُ مَحَاسِنَ الْأَخْلَاقِ وَيَحْفَظَهُ من القرناء السُّوءِ وَلَا يُعِوِّدُهُ التَّنَعُّمَ وَلَا يُحَبِّبُ إِلَيْهِ الزينة والرفاهية فَيَضِيعُ عُمْرُهُ فِي طَلَبِهَا إِذَا كَبِرَ فَيَهْلِكُ هَلَاكَ الْأَبَدِ Dan perlindungannya adalah dengan mendidiknya, memperbaiki akhlaknya, mengajarkannya kebaikan-kebaikan akhlak, dan menjaganya dari teman-teman yang buruk, serta tidak membiasakannya dengan kenikmatan (kemewahan) dan tidak membuatnya mencintai perhiasan dan kemewahan, sehingga umurnya akan sia-sia dalam mengejarnya ketika ia besar, maka ia akan binasa dengan kebinasaan yang abadi.

Intinya, Imam Ghazali mengingatkan kita bahwa mendidik anak adalah perkara paling wajib. Hati anak itu ibarat permata (jauhar) yang masih murni, polos, belum ada ukirannya. Jenengan mau ukir jadi apa, itu terserah pemegangnya. Kalau dibiasakan baik, dia bakal jadi ahli surga dan orang tuanya kecipratan pahala. Tapi, kalau dibiarkan liar kayak hewan ternak—dikasih makan doang tapi nggak dididik—maka dosanya bakal nangkring di pundak orang tua.

Beliau juga mengingatkan, kalau kita sibuk menjaga anak dari api dunia (sakit, lapar, miskin), harusnya kita lebih sibuk lagi menjaga mereka dari api akhirat. Caranya? Ajarkan akhlak, jauhkan dari teman (atau tontonan) yang buruk, dan jangan biasakan hidup bermewah-mewahan. Kalau dari kecil sudah diajari cinta dunia dan glamor, habis umur mereka nanti cuma buat ngejar fatamorgana itu.

Dari paparan di atas, jelas sudah bahwa membiarkan anak tenggelam di medsos tanpa pendampingan itu sama saja menyia-nyiakan amanah Tuhan. Nggak cukup cuma kasih makan dan sekolah mahal, tapi pengawasan moral itu fardhu ‘ain hukumnya bagi orang tua. Rekan-rekanita sekalian, menjaga anak di zaman now memang tantangannya berat, tapi ingatlah bahwa apa yang kita tanam hari ini adalah bekal keselamatan kita di masa depan. Mari kita rebut kembali perhatian anak-anak kita dari layar kaca, dan arahkan pandangan mereka kembali kepada nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan. Semoga jenengan semua diberi kekuatan untuk menjaga titipan Illahi ini.

Recent Posts

  • Fiqh Puasa Syiah – Kelonggaran Dalam Niat Puasa
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 44 – Keutamaan Menyampaikan Kebaikan
  • Fiqh Puasa Syiah – Niat Puasa Tetap Sah Meski Siang Hari
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 43 – Keutamaan Ilmu Dibanding Menyampaikan Sebuah Hadis yang Baik
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 42 – Keutamaan Mendoakan Pengajar Kebaikan
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 41 – Keutamaan Mengingat Allah dan Menuntut Ilmu di Dunia
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 40 – Keutamaan Berbagi Ilmu dan Hikmah kepada Sesama Muslim
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 39 – Bahaya Menyembunyikan Ilmu Agama
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 38 – Cara Allah Mencabut Ilmu dari Dunia
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 37 – Keutamaan Ilmu yang Bermanfaat bagi Orang Lain
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 36 – Keutamaan Mengajarkan Ilmu dan Mengamalkannya
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 35 – Keutamaan Dakwah dan Mengajak kepada Jalan Allah
  • Terjemah Kitab Fathul Qarib Sholat Jumat (Part 10): Adab Masuk Masjid Saat Imam Sedang Khutbah Jumat
  • Terjemah Kitab Fathul Qarib Sholat Jumat (Part 9): Adab Mendengarkan Khutbah dan Pengecualiannya
  • Terjemah Kitab Ihya Ulumiddin Part 34 – Kewajiban Menyampaikan Ilmu dan Larangan Menyembunyikannya
  • Running Windows 11 on Apple Silicon: UTM vs. Parallels Desktop vs. VMware Fusion
  • Testing PikaOS, a Rolling Debian Distribution Special for Gaming and Content Creation
  • Engineering the On-Premises AI Data Center: An In-Depth Technical Review of the HP ZGX Fury AI Station
  • Trying my new Favourite Task Manager, TMOG on Omarchy Linux
  • ASRock Industrial AI Box A395: Is This the Best Compact Strix Halo System for Local AI?
  • Redox OS: A Rust-Based Microkernel Operating System (And How It Differs from Linux)
  • Canonical Is Bringing Back Ubuntu Core Desktop — This Time With a Clearer Plan
  • systemd Officially Adds Support for Rust Components
  • Rocky Linux Creator Builds a Brand-New “Not Linux” Kernel in 11 Days Using AI
  • Building a local AI agent in Workshop on Ubuntu 26.10
  • Canonical: Ubuntu coming soon to Snapdragon X2 Series platforms
  • Finally, wolfSSL adds post-quantum algorithms!
  • How to Run Gemma Embedding Models Using Docker
  • Deploy Nginx Rootful Container with Podman
  • How to Sandboxing Browser on Linux Desktop with Flatpak
  • How to Hardening Journald on Linux Server (Fedora/AlmaLinux)
  • Block Bad USB on Linux Server with USBGuard
  • How to Secure NetworkManager on Fedora/AlmaLinux
  • How to Secure DNS and NTP in Fedora Linux
  • How to Hardening DNF on Fedora/Almalinux
  • Some of New Gemini Notebook Update is CRAZY GOOD: Native Mobile Recording
  • Clover 35B A3B Local Test | Diffusion Model Beats Qwen 35B MoE? | Local AI Setup with llama.cpp
  • The no-code app implementation plan in 2026
  • Liquid AI Unveils LFM3: A New Generation of Multimodal Foundation Models Built Small Device
  • Google DeepMind Unveils Genie 4: The Most Advanced Real-Time Interactive World Model Yet
  • Building Long-Running AI Agents with Pi Durable: An AI SRE Agent Example
  • Prompt AI: Impressionist Portrait Art of a Woman
  • Prompt AI: Stylish Man Walking Double Exposure Photo
  • Trying Nemotron 3.5 Super VL: NVIDIA’s Open Multimodal Model Built for Agents That Actually See and Act
  • Pruna AI Release their Qwen-Image 2.1 LoRA Adapter, 6x Faster than Regular Qwen
RSS Error: WP HTTP Error: A valid URL was not provided.

Categories

  • Akhlaq lil Banin
  • Alala
  • Alfiyah Ibnu Malik
  • Apple
  • Bahtsul Masail
  • Bughyatul Mustarsyidin
  • Cerita
  • Download
  • Fathul Qarib
  • Fiqh Syiah
  • Gusdur
  • Idhotun Nasyiin
  • Ihya Ulumiddin
  • Ilmu Umum
  • Jurumiyah
  • Ke-NU-an
  • Kitab Kuning Politik
  • Linux
  • Nashoihul Ibad
  • Pendidikan
  • PKB
  • Review
  • Tokoh
  • Tsaquful Akhyarin Nahdliyah
  • Tutorial
  • Uncategorized
©2026 surauEMKA | Design: Newspaperly WordPress Theme