Pernah dengar nama Subhan ZE? Kalau belum, rasanya kalian melewatkan satu kepingan puzzle sejarah yang penting banget. Dia bukan sekadar tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) biasa, tapi sosok pemberani yang awalnya mendukung lahirnya Orde Baru, tapi akhirnya justru jadi musuh bebuyutan Presiden Soeharto. Penasaran gimana sepak terjang dan akhir hidupnya yang penuh misteri? Mari kita bahas lebih dalam di sini.
Subhan Zaenuri Echsan atau yang lebih akrab dipanggil Subhan ZE adalah figur sentral di masa transisi yang penuh gejolak di pertengahan tahun 60-an. Sebagai tokoh muda NU yang cerdas, karirnya melesat cepat hingga menjadi Wakil Ketua MPRS dari fraksi NU periode 1966-1971. Namun, peran paling krusial yang dimainkannya bermula tepat setelah peristiwa G30S meletus. Hanya selang sehari setelah tragedi berdarah itu, tepatnya pada 2 Oktober 1965, Subhan yang dikenal sebagai tokoh antikomunis langsung bergerak cepat. Dia nggak mau diam saja melihat situasi negara yang kacau. Bersama Brigjen TNI Sujipto, mereka ngebangun sebuah front perlawanan yang diberi nama KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh).
Di organisasi ini, Subhan menjabat sebagai ketua, didampingi oleh Harry Tjan Silalahi dari Partai Katolik sebagai sekretarisnya. Langkah mereka tergolong sangat berani di masa itu. Pada tanggal 4 Oktober, mereka menemui Mayjen Soeharto di markas Kostrad. Pertemuan ini menjadi titik awal kolaborasi sipil dan militer untuk menumpas PKI. Tak lama setelah itu, mereka mengadakan rapat umum di Taman Sunda Kelapa yang sukses menarik massa dalam jumlah besar. Tuntutan mereka jelas: kutuk G30S dan bubarkan PKI. Gerakan ini makin membesar pada tanggal 8 Oktober dengan desakan agar Presiden Soekarno segera membubarkan PKI beserta ormas-ormasnya.
Gerakan yang diinisiasi oleh Subhan ini sepertinya menjadi pemicu efek domino yang luar biasa. Semangat perlawanan ini ngebuat munculnya berbagai kesatuan aksi lainnya yang menjadi motor penggerak sejarah, di antaranya:
-
KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia): Wadah bagi mahasiswa yang ingin perubahan politik.
-
KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia): Organisasi pelajar yang turut turun ke jalan.
-
KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia): Kalangan intelektual yang memberikan dukungan pemikiran dan moral.
Dalam pergerakannya, kami mencatat bahwa para pemuda dan mahasiswa ini didukung penuh oleh Angkatan Darat. Pihak militer secara rutin ngasih jadwal dan lokasi demonstrasi, bahkan memberikan pengamanan agar aksi berjalan lancar. Puncak dari semua aksi ini melahirkan tiga tuntutan rakyat yang legendaris, dikenal sebagai Tritura: Bubarkan PKI, Rombak Kabinet Dwikora, dan Turunkan Harga Pangan.
Ada satu cerita menarik yang menunjukkan betapa “badung”-nya Subhan di mata kekuasaan lama. Suatu kali, Subhan bertemu dengan Presiden Soekarno. Bung Karno sempat menyindir, mengatakan kalau dulu Subhan anak baik, tapi sekarang jadi nakal karena ikut-ikutan demonstrasi. Jawaban Subhan sungguh di luar dugaan dan sangat berani. Dia bilang ke Bung Karno kalau dia nggak sekadar ikut-ikutan demo, tapi dialah yang “memimpin demonstrasi” tersebut. Keberanian semacam inilah yang akhirnya mendorong lahirnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) pada tahun 1966, yang menjadi legitimasi bagi Soeharto untuk membubarkan PKI. Subhan pun menyambut ini dengan gembira.
Namun, bulan madu antara Subhan dan Soeharto ternyata nggak berlangsung lama. Meskipun Subhan sangat berjasa dalam naiknya Soeharto ke kursi presiden, integritasnya membuatnya nggak bisa tutup mata terhadap penyimpangan yang terjadi. Dia mulai mengkritik tajam gaya kepemimpinan rezim Orde Baru yang dinilainya sudah melenceng, semakin koruptif, dan sama sekali nggak demokratis. Berkat perjuangan kerasnya pula, pemilu yang tadinya sengaja ditunda-tunda oleh pemerintah Soeharto hingga tahun 1973, akhirnya bisa dipercepat menjadi tahun 1971.
Menjelang Pemilu 1971, konfrontasi antara mereka berdua makin meruncing. Bayangkan saja, di setiap pidatonya di kampanye NU, Subhan nggak ragu mengobarkan semangat jihad untuk melawan ketidakadilan. Soeharto pun membalas dengan ancaman bahwa jihad akan dihadapi dengan jihad pula. Subhan sepertinya nggak gentar sedikitpun menghadapi cengkeraman kekuasaan Soeharto yang makin kuat. Dia bahkan nyaris menggugat Soeharto dan Golkar ke Mahkamah Internasional karena saking kesalnya dengan kecurangan yang terjadi. Dia juga sangat vokal mengkritik Asisten Pribadi (Aspri) Presiden dan peraturan Menteri Dalam Negeri yang dianggapnya cuma nguntungin Golkar dan mengebiri demokrasi.
Sikap kritis Subhan ini ternyata berbuah pahit. Dia nggak cuma dimusuhi pemerintah, tapi juga mulai berkonflik dengan kalangan internal NU sendiri. Puncaknya, Pengurus Besar Syuriah NU mengeluarkan surat pemecatan terhadap Subhan yang ditandatangani oleh Rois Aam K.H. Bisri Syansuri. Alasannya? Beberapa tokoh NU menilai kritik Subhan ke pemerintah kurang bermoral. Ditambah lagi, saat itu beredar foto-foto kehidupan “glamor” Subhan yang dianggap jauh dari nilai-nilai Islam. Namun, banyak pihak mencurigai kalau tersebarnya foto-foto itu adalah hasil operasi intelijen (Opsus) yang dipimpin Ali Murtopo untuk membunuh karakter Subhan. Memang, saat itu rezim Orde Baru mulai memandang organisasi keagamaan dengan basis massa besar sebagai ancaman politis yang harus diredam.
Setelah terbuang dari panggung politik, nasib Subhan makin tragis. Bersama Jenderal Nasution, dia sempat menulis “Buku Putih” yang berisi laporan pimpinan MPRS. Tapi, buku itu disita oleh Kopkamtib sebelum sempat beredar luas karena isinya dianggap terlalu berbahaya bagi rezim. Merasa terancam oleh loyalis Orde Baru, Subhan bahkan sempat meminta perlindungan kepada Nasution.
Akhir hidup tokoh pemberani ini terjadi di Tanah Suci. Setelah tidak lagi menjabat di MPRS dan NU, Subhan berangkat haji. Namun malang, pada tanggal 21 Januari 1973, kendaraan yang ditumpanginya di Mekkah mengalami kecelakaan parah hingga terguling. Setelah sempat pingsan selama satu jam, Subhan dinyatakan meninggal dunia. Kematiannya menyisakan tanda tanya besar. Banyak yang percaya kalau ini adalah hasil konspirasi tingkat tinggi untuk melenyapkan suara kritisnya, meski ada juga yang meyakini ini murni kecelakaan. Apapun itu, nama Subhan ZE nyaris terhapus dari sejarah, meski untungnya masih ada jalan di Kudus, Jawa Tengah, yang dinamai Jl. HM Subhan ZE sebagai bentuk penghormatan.
Kisah hidup Subhan ZE ini sepertinya ngasih kita tamparan keras sekaligus pelajaran berharga tentang konsistensi. Dia mengajarkan bahwa kekuasaan itu menggoda, dan berani berkata “tidak” pada penguasa yang zalim—meskipun itu teman sendiri—membutuhkan nyali yang luar biasa besar. Subhan menolak untuk kompromi meski harus kehilangan jabatan, reputasi, bahkan nyawanya. Sejarah mungkin bisa direkayasa, tapi jejak keberanian seperti yang ditunjukkan Subhan nggak akan mudah hilang begitu saja. Tugas kita sekarang adalah merawat ingatan itu agar kesalahan masa lalu nggak terulang lagi di masa depan.
Salam rekan-rekanita dan terimakasih sudah membaca.