| kalam | artinya |
| وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: تَذَاكُرُ الْعِلْمِ بَعْضَ لَيْلَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ إِحْيَائِهَا، وَكَذَلِكَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَحْمَةُ اللهِ | Dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Saling mengulang-ulang ilmu pengetahuan sesaat di malam hari lebih aku sukai daripada menghidupkan malam itu dengan shalat sunnah.” Begitu juga pendapat yang disampaikan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Ahmad bin Hanbal rahmatullah. |
Penjelasan:
Kalimat ini berisi nasihat yang sangat berharga dari seorang sahabat Nabi yang sangat pintar, yaitu Ibnu Abbas. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan mempelajari ilmu agama, berdiskusi, atau mengulang-ulang pelajaran (tadzakur) meskipun hanya sebentar atau sebagian malam saja, itu nilainya sangat istimewa.
Bahkan, menurut Ibnu Abbas, kegiatan belajar ini lebih beliau cintai daripada menggunakan seluruh waktu malam hanya untuk mengerjakan shalat sunnah (tahajud). Mengapa demikian? Karena manfaat shalat sunnah biasanya hanya kembali kepada orang yang mengerjakannya, sedangkan manfaat ilmu bisa dirasakan oleh banyak orang dan menjaga agama tetap hidup.
Pendapat hebat ini ternyata bukan hanya milik Ibnu Abbas sendiri. Sahabat Nabi yang paling banyak menghafal hadits, yaitu Abu Hurairah, serta seorang ulama besar bernama Imam Ahmad bin Hanbal, juga memiliki pendapat yang sama. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan belajar dan menuntut ilmu dalam agama Islam.