| Kalam | Artinya |
| وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ: أَيُّ الْأَشْيَاءِ تُقْتَنَى؟ | Ada yang pernah bertanya kepada salah seorang ahli hikmah (orang bijak), “Barang apa sih yang paling baik untuk kita miliki dan kita simpan?” |
| قَالَ: الْأَشْيَاءُ الَّتِي إِذَا غَرِقَتْ سَفِينَتُكَ سَبَحَتْ مَعَكَ، يَعْنِي الْعِلْمَ | Orang bijak itu menjawab, “Miliki lah barang-barang yang kalau kapalmu tenggelam, barang itu bisa ikut berenang bersamamu.” Yang dimaksud olehnya adalah ilmu. |
| وَقِيلَ: أَرَادَ بِغَرَقِ السَّفِينَةِ هَلَاكَ بَدَنِهِ بِالْمَوْتِ | Ada pendapat lain yang menjelaskan bahwa maksud dari “tenggelamnya kapal” itu adalah hancurnya tubuh kita karena meninggal dunia. |
Penjelasan:
Teks ini berisi nasihat yang sangat indah tentang pentingnya menuntut ilmu. Seorang ahli hikmah (orang bijak) ditanya tentang harta apa yang paling berharga untuk dimiliki. Jawabannya sangat cerdas: harta terbaik bukanlah emas, uang, atau benda mahal lainnya. Kenapa? Karena jika kita naik kapal dan kapal itu tenggelam, semua harta benda itu akan ikut tenggelam ke dasar laut dan hilang.
Harta terbaik adalah “Ilmu”. Kenapa ilmu dibilang bisa “berenang” bersamamu? Karena ilmu itu tersimpan di dalam hati dan pikiran, bukan di dalam tas atau peti. Jadi, meskipun kita mengalami musibah (seperti kapal tenggelam), ilmu itu tetap selamat ada di dalam diri kita.
Bagian terakhir menjelaskan makna yang lebih dalam lagi. “Kapal tenggelam” itu adalah perumpamaan untuk tubuh kita yang meninggal dunia. Jika kita meninggal, harta benda tidak bisa dibawa. Tetapi, ilmu yang bermanfaat akan tetap kita bawa dan menemani kita meskipun tubuh kita sudah rusak karena kematian.