| Kalam | Artinya |
| وَقَالَ بَعْضُهُمْ: مَنِ اتَّخَذَ الْحِكْمَةَ لِجَامًا اتَّخَذَهُ النَّاسُ إِمَامًا، وَمَنْ عُرِفَ بِالْحِكْمَةِ لَاحَظَتْهُ الْعُيُونُ بِالْوَقَارِ | Sebagian ulama berkata: “Barang siapa yang menjadikan hikmah sebagai pengendali dirinya, maka orang-orang akan mengangkatnya menjadi pemimpin. Dan barang siapa yang dikenal memiliki hikmah, maka mata orang-orang akan memandangnya dengan penuh rasa hormat (wibawa).” |
Penjelasan:
Kalimat ini mengajarkan kita tentang betapa pentingnya sifat bijaksana atau hikmah. Di sini, hikmah diumpamakan seperti tali kekang kuda (lijam). Tali kekang berfungsi untuk menahan dan mengarahkan kuda agar tidak lari sembarangan atau menabrak sesuatu.
Begitu juga dengan kita, jika kita menggunakan hikmah sebagai pengendali, kita akan bisa menahan lisan dan perbuatan kita dari hal-hal yang buruk atau sia-sia. Karena kita mampu mengendalikan diri dengan baik, orang lain akan merasa aman dan percaya kepada kita, sehingga mereka dengan senang hati menjadikan kita sebagai pemimpin (imam).
Selain itu, kalimat ini juga menjelaskan bahwa orang yang dikenal bijaksana akan otomatis terlihat berwibawa. Ketika orang lain melihatnya, pandangan mereka penuh dengan rasa hormat dan segan (waqar) karena kebaikan akhlaknya tersebut.